Siang itu matahari menggantung pucat di atas kota yang mulai lengang. Setelah menjalani pemeriksaan di klinik, Ibu mengendarai mobil menuju Sekolah Dasar tempat Maya belajar. Sebuah map bertuliskan nama klinik berisi diagnosis perkembangan kondisi rahim, Ibu simpan di kursi, di sebelahnya. Ketika sampai di depan gerbang sekolah, halaman masih kosong, hanya ada pedagang jajanan anak di sepanjang pagar tembok sekolah yang sedang menunggu anak-anak bubar pulang. Itu Pukul 11 siang lebih sedikit. Masih ada satu jam hingga bel berbunyi. Tetapi Ibu memilih menunggu sambil membaca kembali isi map itu.
Hingga akhirnya anak-anak berhamburan satu jam kemudian. Beberapa murid pulang sambil berlarian, sebagian lagi dijemput orang tua mereka. Ibu menunggu di dalam mobil. Lima menit berlalu. Lalu sepuluh menit. Namun, Maya belum juga terlihat. Kerutan muncul di dahinya. Biasanya Maya selalu menjadi salah satu anak pertama yang keluar. Karena khawatir setelah hampir lima belas menit menunggu, ibu akhirnya turun dari mobil. Dari kejauhan, di dekat taman kecil sekolah, Ibu melihat sekelompok anak berdiri. Ada Maya juga di sana dengan wajah kerung.
Ibu mempercepat langkah. Suara khas anak-anak terdengar.
"Anak babi!"
"Bapaknya pelihara babi ngepet!"
"Ih najis."
"Ha-ha-ha."
Suara-suara itu terdengar jelas. Namun yang membuat ibu tertegun bukanlah ejekan itu. Melainkan Maya sendiri. Anak perempuan itu tidak menangis. Tidak marah tapi juga tidak membela diri. Ia hanya berdiri sambil tersenyum kecil, seolah sedang mendengarkan percakapan biasa. Seolah kata-kata itu tidak menyakitinya. Mungkin Maya sudah terlalu sering ia dengar.
"Maya!" panggil ibu.
Anak-anak itu langsung menoleh.
Wajah ibu memerah. Ada amarah yang meledak begitu saja. "Kalian tidak diajarkan sopan santun?" bentaknya. Anak-anak itu saling berpandangan. "Memangnya kenapa kalau bapaknya memelihara babi?"
Tak ada yang menjawab. Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Yang lain perlahan menjauh. Ibu masih ingin mengatakan lebih banyak, tetapi Maya menarik ujung bajunya.
"Sudah, Bu." Nada suaranya ringan.
Ibu menatap putrinya dengan dahi mengernyit. "Kamu tidak apa-apa?"
Maya mengangguk. "Maya nggak kenapa-napa kok."
Entah kenapa jawaban itu malah membuat dada ibu terasa semakin berat. Ada sesuatu yang salah. Maya tertawa kecil seolah kejadian barusan hanyalah lelucon ringan. Ia bahkan berkomentar bahwa babi peliharaan Bapak memang najis bagi mereka. Tidak ada yang salah dengan itu.
Ibu kemudian menggenggam tangan Maya dan menuntunnya masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa lagi. Di dalam dada Ibu, rasa marah pada anak-anak tadi bercampur dengan rasa bersalah karena tidak bisa melindungi Maya sepenuhnya.