Pagi itu seperti biasa Bapak memberi makan babi peliharaannya sebelum ke kantor dengan mengendarai sepeda motornya. Jalanan Kota Bandung sudah dipenuhi kendaraan meskipun hari masih terbilang pagi. Mobil, motor, dan angkutan umum bergerak merayap memenuhi setiap ruas jalan yang dilaluinya.
Di tengah kemacetan itu, Bapak sebenarnya hampir tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya. Pikirannya pulang pergi pada pertengkaran tempo hari di mana ibu kembali menyuruhnya untuk melakukan konseling. Bapak menyesal sudah mengeluarkan kata-kata yang seharusnya dipendamnya, yang membuat Ibu melayangkan kata cerai.
Suara itu terus terulang dalam ingatannya. Bapak menggenggam setang motor lebih erat sambil menatap lampu merah di depannya. Ia tidak marah ketika mendengar keinginan Ibu. Yang dia rasakan justru kelelahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dia sadar hubungan mereka sudah lama retak, bahkan mungkin sejak kepindahan mereka ke Bandung. Selama itu mereka hanya hidup berdampingan seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama. Mereka masih berbicara seperlunya, masih makan di meja yang sama, tetapi tidak lagi benar-benar saling memahami. Bapak tahu kalau Ibu menganggap dirinya tidak peduli pada keluarga. Namun Bapak juga tahu bahwa tuduhan itu tidak sepenuhnya salah.
Sesekali suara klakson terdengar membuat Bapak kembali pada kesadarannya. Suaranya bersahut-sahutan dari berbagai arah seolah semua orang sedang berlomba melawan waktu. Lampu lalu lintas yang berubah hijau tidak banyak membantu karena kendaraan di depannya tetap bergerak sangat lambat. Keberadaan tukang parkir yang lebih mementingkan kendaraan keluar masuk juga menjadi salah satu penyebab. Bapak tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya pun melakukan hal yang sama saat harus masuk ke halaman kantornya: ingin didahulukan.
Sesampainya di kantor, Bapak langsung duduk di depan komputer dan membuka laporan keuangan yang harus diselesaikannya hari itu. Angka demi angka memenuhi layar monitor, tetapi pikirannya tidak mampu mengikuti apa yang dilihat matanya. Berkali-kali ia membaca baris yang sama tanpa benar-benar memahami isinya. Rekan kerjanya yang duduk di sebelah sempat bertanya beberapa hal mengenai pekerjaan, namun ia hanya menjawab singkat.
Konsentrasinya terus pecah oleh kenangan yang selama hampir dua tahun ini berusaha dikuburnya. Setiap kali dia mencoba fokus pada pekerjaan, bayangan wajah anak bungsunya selalu muncul. Bayangan itu datang tanpa diundang, seolah ingin mengingatkan bahwa ada kesalahan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.
"Pak, dia masih terlalu kecil, apa nggak bisa tunggu dulu sampai agak besar. Paling tidak sampai usia sekolah." Ibu berujar khawatir saat itu.
"Bapak bisa jaga Will kok, Bu. Tidak usah khawatir terjadi apa-apa padanya," jawab Bapak.
"Kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
"Tenang saja, Bu. Will aman sama Bapak."
Itu adalah percakapan yang terus menghantuinya hingga sekarang. Dia sadar kehilangan itu bukan hanya menghancurkan dirinya. Istrinya juga kehilangan seorang anak. Kakak-kakaknya kehilangan adik mereka. Namun cara Bapak menghadapi rasa bersalah membuat jarak di antara mereka semakin lebar. Dia menjadi pendiam dan menutup diri. Walaupun begitu dia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, meski secara emosional dia berhenti hadir. Setiap kali melihat anak-anaknya, yang teringat justru anak yang tidak bisa diselamatkannya. Bapak tahu itu tidak adil, tetapi perasaan bersalah sering kali tidak peduli pada apa yang adil dan apa yang tidak.