Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #9

Nikmatnya Berkubang Seperti Babi


Jam di menara gereja menunjukkan tepat pukul dua belas siang ketika Ibu dan maya melangkah keluar bersama jemaat-jemaat lain dari gedung berornamen salib kayu itu setelah mengikuti ibadah Minggu. Karena lokasinya di pinggiran kota Bandung dekat dengan kaki gunung, udara di sana menjadi hangat di sepanjang jalan hingga menuju lingkungan kompleks itu walau matahari terik di atas sana. Itulah yang membuat Ibu berpikir untuk sesekali menikmati suasananya dengan berjalan kaki. Makanya hari itu Ibu memutuskan tidak membawa mobil seperti biasanya. Lagi pula letak gereja bisa dibilang dekat saja dari gerbang kompleks.

Sesekali mereka menyapa tetangga yang berpapasan. Jalanan kompleks perumahan terlihat cukup ramai oleh warga yang sedang beraktivitas. Tidak ada sesuatu yang tampak istimewa pada hari itu sampai perhatian Maya tertuju pada sosok yang berjalan di sisi jalan yang lain. Sosok itu adalah Bapak, yang sedang mengajak babi peliharaannya berjalan-jalan.

Bapak tampak santai berjalan sementara Will dibiarkan berlarian begitu saja di depannya. Sesekali binatang itu mengendus rerumputan di tepi jalan. Pemandangan itu sebenarnya tidak aneh karena Bapak memang sering mengajak Will keluar rumah di hari minggu. Namun ada satu hal yang membuat Ibu kembali teringat pada sesuatu yang selama ini mengganggu pikirannya. Hampir setiap hari Minggu, bapak selalu pergi ke hutan belakang kompleks perumahan dan baru kembali sore harinya.

Awalnya Ibu tidak terlalu memikirkannya, tetapi kebiasaan itu terus berulang selama setahun ini. Semakin lama, rasa penasaran perlahan berubah menjadi kecurigaan. Ibu merasa ada ssuatu yang sengaja disembunyikan oleh Bapak.

"Bapak ke hutan lagi kayaknya, Bu?"

"Iya."

"Sebenarnya ngapain sih Bapak ke sana?"

"Ibu juga Nggak tahu, May. Itu urusan Bapak."

"Memang ibu nggak penasaran?"

Ibu tidak langsung menjawab.

Mereka terus berjalan sambil memperhatikan Bapak dari kejauhan. Di dalam hati, Ibu mencoba meyakinkan dirinya agar tidak mengurusi urusan Bapak dan babi peliharaanya. Namun, semakin lama mereka melihat Bapak berjalan menuju arah yang sama seperti biasanya, semakin kuat pula dorongan untuk mencari tahu kebenarannya. Maya yang melihat perubahan ekspresi ibunya mulai ikut penasaran.

Akhirnya keduanya memperlambat langkah dan mulai mengikuti Bapak dari belakang dengan jarak yang cukup aman agar tidak terlihat.

"Bu, kita mau mengikuti Bapak?" bisik Maya datar saja.

"Iya. Mau cari tahu ngapain mereka ke belakang hutan."

Maya tersenyum.

Mereka terus membuntuti Bapak melewati beberapa ruas jalan di dalam kompleks hingga tiba di area belakang kompleks yang terrnyataa di sana ada pintu gerbang kecil sebagai alternatif masuk ke dalam komplek untuk pejalan kaki. Ibu baru mengetahui jalan gang tersebut. Keluar dari kompleks adalah pemukiman warga kampung sebelah.

Beberapa anak kecil yang sedang bermain di tepi jalan tanah berbatu sanal tampak menengok ke arah Bapak dan babi peliharaannya. Mereka tersenyum lebar, yang lainnya tertawa kecil. Satu anak di antaranya mengambil batu dan melemparkannya ke arah mereka ketika binatang itu berjalan mendekatinya.

"Ih. Najis. Sana!" teriaknya sambil menggerakan tangan untuk mengusir.

Walaupun beberapa di antara mereka juga antusias melihat keberadaan babi itu. Hal itu terlihat dari mata mereka yang terus mengikuti kemana Bapak dan babi peliharaannya saat melewati mereka. Sementara Bapak sendiri tampak santai berjalan seakan hal itu sudah baisa baginya.

Ibu dan Maya terus mengikuti hingga tiba di sebuah persimpangan kecil. Saat itulah sesuatu yang tidak terduga terjadi. Bapak tiba-tiba berbelok menuju sebuah warung sederhana yang berada di pinggir jalan. Karena terlalu fokus memperhatikannya, Ibu dan Maya terlambat mencari tempat bersembunyi ketika Bapak berbalik. Pandangannya langsung bertemu dengan Bapak. Wajah Bapak menunjukkan ekspresi terkejut. Sementara itu Ibu dan Maya yang sebenarnya masih berjarak agak jauh hanya bisa berdiri kaku karena merasa tertangkap basah.

Ibu dan Maya pun berjalan ke warung tersebut, menghampiri Bapak yang sedang membeli rokok. Maya lalu menghampiri babi itu yang sedang mengendus-endus tanah dan tepi dinding warung. Suasana mendadak canggung ketika Bapak melangkah keluar dan mendapati mereka ada di sana. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya rasa bingung. Ibu akhirnya memutuskan untuk jujur dan menceritakan bahwa dirinya penasaran saja kemana Bapak dan Babi itu pergi.

"Mau ikut Bapak?" tanya Bapak. Ibu menggeleng pelan. Walau sebenarnya penasaran, terapi dengan baju yang sedang dikenakannya, Ibu ragu untuk terus ikut kemana Bapak pergi. "Sebaiknya ikut saja, Bu. Biar nanti nggak penasaran lagi," ucap Bapak kemudian.

"Ikut saja Yuk, Bu." Maya berujar mengajak.

Ibu sempat terdiam sebeum akhirnya memengangguk pelan.

Lihat selengkapnya