“Dari mana Bapak tahu tempat itu?”
Ibu bertanya saat perjalanan turun gunung. Karena hari sudah sore dan dirinya belum masak buat makan malam, Ibu menyuruh mereka segera pulang. Dengan masih menenteng sepatunya, Ibu tampak kesulitan menuruni undakan-undakan tanah itu. Tetapi Bapak yang ada di sampingnya selalu siaga menjaga. Sementara itu, Maya dengan entengnya turun bersama babi peliharaan yang sesekali menghilang di balik semak lalu muncul lagi jauh di bawah sana.
“Perasaan Bapak sudah cerita ke Ibu.”
“Hah? Kapan?”
Bapak mengernyit berpikir. “Mungkin cuma perasaan Bapak,” bisiknya.
Sebenarnya Bapak memang sudah menceritakan pada Ibu beberapa kali. Namun, entah apa ibu menyimak atau tidak, itu menjadi pendaman Bapak. Terkadang orang-orang tidak akan menyimak apa yang sedang dibicarakan bukan karena tidak mendengar tetapi karena mereka tidak terlalu antusias pada pembahasannya. Mengingat Ibu memang tidak terlalu menyukai kegiatan mendaki, Bapak sangat memaklumi itu. Ada kesal, memang. Akan tetapi, pemakluman pada orang yang dicintainya adalah bentuk kasih sayang tersendiri bagi Bapak. Bapak tidak ingin merusak suasana yang sedang baik-baik saja setelah apa yang terjadi di atas sana, maka dia abaikan itu.
Setelah tiba di bawah jalur pendakian, mereka hanya tinggal berjalan landai untuk menuju pemukiman melewati hutan-hutan pinus dan kebun-kebun warga yang lebih banyak ditanami pohon kopi di sepanjang jalur. Di sanalah Bapak menceritakan kembali tentang bagaimana dirinya mengetahui tempat itu.
Sebelum pulang, Bapak membawa mereka ke kamar mandi umum yang ada di ujung jalur pendakian. Tempat dimana Bapak selalu memandikan babi sebelum menuju rumah agar tidak dimarahi Ibu. Walaupun Ibu tidak akan benar-benar marah hanya karena babi itu pulang dalam keadaan berlumur tanah lumpur. Bapak hanya ingin menjaga perasaan penghuni rumah agar tidak terlalu membenci Will.
Orang-orang yang lewat tampak aneh melihat Bapak memandikan babi peliharaannya. Wajah-wajah itu menatap dengan dahi mengerut terutama perempuan yang berkerudung.
“Cepat, Maya, cuci kakinya, jangan main-main,” suruh Ibu yang sudah lebih dulu selesai bersih-bersih diri dan kembali mengenakan sepatunya. Kemudian dia menata baju dan rambut agar tampak kembali rapi. “Ayo. Kakak kamu mungkin sudah menunggu di rumah.”
“Iya. Mereka ke mana, Bu. Waktu Bapak pergi, mereka sudah tidak ada di rumah.” Bapak bertanya sambil masih menggosok-gosok tubuh babi itu.
“Putri lagi kumpul sama teman-temannya di komunitas di Bandung. Dia minta diantar sama Rani.”
“Sebentar lagi mereka ujian. Jangan kebanyakan main.”
Sungguh perkataan itu membuat Ibu tersenyum karena ternyata dibalik diamnya Bapak selama ini, dia sebenarnya memperhatikan anak-anak perempuannya.
“Kenapa Bapak tidak ngomong langsung sama mereka?”
Bapak bukannya tidak mengerti maksud ibu mengatakan hal demikian. Ibu sangat tahu ada sekat-sekat di antara Bapak dan anak-anak perempuannya selama ini. Ibu ingin Bapak membongkarnya agar bisa berbicara secara leluasa pada mereka, pada perempuan-perempuan yang juga anaknya, bukan hanya kepada Will. Bapak menatap ibu sejenak. Tidak ada senyum, tidak ada ekspresi apa pun untuk menunjukkan kesediaannya menyanggupi permintaan sederhana Ibu yang dirasa berat olehnya. Bapak hanya bisa terus menggosok dan kemudian mengguyur babi peliharaannya yang tampak gembira dimandikan Bapak.
****