Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #11

Izin Tur ke Dieng


Raka berdiri di depan teras rumahnya, meniupkan napas ke telapak tangan. Itu pukul setengah empat subuh. Suhu dingin bulan Februari di pagi buta menusuk sampai ke tulang. Di depan pagar, empat Vespa lain sudah menyala, lampu bulatnya memotong gelap seperti mata kucing yang waspada. Seorang lelaki lain terlihat duduk nongkrong di joknya sambil menguap, yang lainnya sibuk mengecek rantai. Sedangkan Ijal dan Bimo, duo sahabat di SMA baru saja tiba beberapa menit lalu membawa kopi dalam cangkir plastik dan langsung duduk-duduk di trotoar menunggu jadwal keberangkatan tur ke Dieng yang sudah ditentukan senior komunitas.

Suara mesin Vespa Sprint biru dongker milik Raka yang sedang dipanaskan pecah di gang yang sepi, bercampur dengan suara jangkrik entah dari mana. Rani. Pacarnya baru saja keluar dari dalam rumah Raka. Semalam tadi dia menginap di sana, yang membuat Ijal mau pun Bimo, teman satu sekolahnya, memandang heran.

"Jadi beneran berangkat?" bisiknya sambil berjalan menghampiri Raka.

Raka mengangguk. "Kamu yakin mau ikut?" tanyanya sembari mematikan kontak sesaat. "Dua hari ke Dieng. Nginep di rumah Mas Bayu di Wonosobo dulu. Dua hari. Tiga hari paling lambat. Jadi mumgkin pulang pergi sekitar lima atau 6 harian, Ran" jelas Raka. "Kamu yakin Bapak kamu nggak nyariin."

Rani terdiam.

"Kalau ragu mending nggak usah," tambah Raka.

Rani masih diam.

Kalau Bapak, Rani yakin tidak. Dia tidak peduli seperti selama ini. Tetapi kalau ibu, mungkin dia marah karena tidak diberi kabar sama sekali. Apalagi besok senin, hari dimana dia harus sekolah. Rani bisa saja berkata itu adalah kegiatan ekstrakurikuler dari sekolah karena toh ada Ijal dan Bimo yang satu sekolahan dengannya. Tetapi Ibu tidak sebodoh itu, dia lulusan universitas di Jakarta bersama Bapak. Mana mungkin dia percaya ada ekstrakurikuler macam itu. Selain itu, ibu pasti marah jika tahu bahwa Rani menginap di rumah laki-laki. Jangankan ibunya, Ijal dan Bimo pun tampaknya tidak senang.

Dua lelaki yang merupakan teman main Rani di sekolah sedari tadi memandang Raka dan Rani mengobrol berdua. Tentu saja mereka mencurigai apa yang dilakukan teman perempuannya itu di rumah Raka. Untuk mengkonfirmasi kecurigaannya itu, Ijal memberanikan diri menghampiri Raka yang merupakan seniornya di komunitas itu untuk bertanya.

"Kalian pacaran?" ucap Ijal langaung saja setelah berdiri di hadapan vespa yang sedang dipanaskan Raka.

Raka menoleh pada Ijal lalu tersenyum tipis. "Tanya saja sama temanmu." Raka menunjuk Rani hanya dengan meliriknya, kemudian memainkan setang gas untuk mengecek performa vespa kesayangannya.

Ijal menoleh pada Rani. Gadis itu pun mengangguk.

"Kamu nginap di rumah dia semalam?" tanya Ijal segera. Rani sempat melirik Raka yang sibuk dengan motornya lalu mengangguk pelan setelah menatap Ijal kembali. "Kalian nggak ngapa-ngapain kan?"

Mendengar itu Raka langsung melirik lelaki cungkring yang usianya jauh di bawahnya. Sebagai pria yang dua tahun lagi akan menginjak kepala tiga, Raka mengerti kekhawatiran dan kecurigaan teman pacarnya itu. Dia sempat melirik pada Rani dan bertatapan dengannya. Rani pun menggeleng pelan padanya.

"Nggak ada, Jal. Kami nggak ngapa-ngapain. Tenang saja."

Entah kenapa lelaki berambut belah dua itu masih tidak senang mendengar jawaban dari Rani. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah gadis itu meyakinkannya.

"Ya sudah," ucap Ijal. "Mau pulang sekarang? Biar saya antar," ajak Ijal kemudian.

Lihat selengkapnya