Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #12

Bapak Pikir Dirinya Nabi


Selama ini Bapak selalu beralasan terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Padahal Ibu tahu yang sebenarnya adalah Bapak merasa masih normal. Itu sebelum kemarahan tempo hari yang berakhir dengan permintaan cerai Bapak dan disetujui Ibu. Meskipun akhirnya sekarang mereka sudah berdamai karena sesuatu terjadi di punggung gunung itu. Setelah izin cuti turun, mereka akhirnya berangkat bersama ke salah satu klinik psikiatri di Bandung yang setahun ini, setiap bulannya, mengirimkan surat undangan konseling pada Ibu untuk Bapak.

Matahari masih belum terlalu tinggi ketika mobil mereka meninggalkan rumah. Setelah mengantarkan anak-anak Ibu langsung pulang menjemput Bapak di rumah. Bapak tidak sekalian ikut mengantar karena harus mengurus Will.

Bapak terlihat tenang seperti hari-hari biasa sambil menyetir. Wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun. Sebaliknya, Ibu justru tampak lebih gelisah, meski berusaha menyembunyikannya. Ia takut Bapak akan membatalkan pemeriksaan jika melihat dirinya terlalu khawatir.

Dalam perjalanan, Bapak beberapa kali membicarakan tentang babi peliharannya yang ditinggal sendirian di rumah. Sepertinya, justru Bapaklah yang khawatir. Bukan pada konseling yang akan dia lakukan, melainkan pada apakah Will akan aman jika ditinggal di rumah sendirian.

Sikap tenang Bapak justru membuat kegelisahan Ibu semakin besar. Ibu tidak tahu apakah itu wajar atau justru merupakan tanda bahwa suaminya tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya. Sesekali Ibu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Namun semakin dekat mereka menuju Bandung, semakin kuat pula keresahan yang muncul.

"Ibu baik-baik saja?" tanya Bapak.

Ibu hanya tersenyum kecil.

"Iya, Ibu baik-baik saja."

Menjelang siang, mereka tiba di sebuah klinik psikiatri yang terletak di salah satu kawasan yang tenang di Bandung. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi tampak bersih dan terawat. Tempat itu terasa hangat dan nyaman seperti rumah tinggal yang diubah menjadi tempat praktik. Aroma kopi dari kafe kecil di sebelah bangunan sesekali terbawa angin. Semua itu sedikit membantu meredakan ketegangan di hati Ibu.

Di dalam klinik, suasananya sama tenangnya. Lampu-lampu kuning yang tidak terlalu terang membuat ruangan terasa nyaman. Beberapa pasien duduk dengan tenang sambil memainkan telepon genggam mereka. Tidak ada suara gaduh ataupun kesan terburu-buru. Seorang resepsionis muda menyambut mereka dengan ramah dan mempersilakan mengisi formulir pendaftaran. Bapak menyerahkan kartu identitasnya tanpa menunjukkan rasa canggung. Ia bahkan sempat bercanda ringan dengan resepsionis ketika salah menuliskan tanggal lahir. Sikapnya yang santai membuat Ibu semakin merasa dirinya sendirilah yang tampak seperti pasien sesungguhnya.

Setelah memperoleh nomor antrean, mereka duduk di ruang tunggu. Tidak ada tanda-tanda kecemasan ataupun ketakutan di wajah Bapak. Ia terlihat sama seperti ketika hendak pergi bekerja atau bermain bersama Will. Hal itu membuat hati Ibu dipenuhi perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.

"Nomor antrian B-12, Bapak Damar Wijaya. Sekali lagi nomor antrian B-12, atas nama...."

Mendengar namanya dipanggil, Bapak segera berdiri.

"Ayo," katanya sambil tersenyum kepada istrinya.

Ruang konsultasi dokter Arman terasa nyaman dan hangat. Salah satu dinding dipenuhi rak buku yang berisi berbagai referensi psikologi dan kesehatan jiwa. Dokter Arman sendiri merupakan pria paruh baya yang berbicara dengan suara lembut tetapi parau.

Lihat selengkapnya