Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #13

Bukan Babi Merundung Maya


Tahun pelajaran 2018-2019 telah resmi berakhir. Rani baru saja selesai Ujian Nasional kemarin, Putri baru semingu lalu lepas dari soal-soal yang yang tidak terlalu menangtang baginya dan sekarang sedang menunggu hasilnya beberapa hari lagi, sedangkan Maya akan mengambil buku rapor itu hari ini.

Suasana SD tempat Maya belajar terasa lebih ramai dari biasanya. Para orang tua berdatangan untuk mengambil rapor, sementara murid-murid menunggu di halaman sekolah bersama teman-temannya. Maya duduk sendirian di bangku semen dekat taman kecil sekolah. Wajahnya datar seperti biasa. Sesekali ia melihat ke arah kelasnya, menunggu ibunya keluar.

Anak-anak lain berlarian sambil tertawa. Ada yang memamerkan nilai mereka kepada teman-temannya, ada pula yang sibuk membeli jajanan di depan gerbang. Namun Maya tidak tertarik bergabung. Sejak kelas satu, gadis kecil itu memang dikenal sebagai anak yang pendiam. Ia lebih sering menyendiri daripada bermain bersama teman-temannya. Di balik sikap diamnya, banyak anak yang sebenarnya merasa takut kepadanya.

Di dalam kelas, wali kelas Maya sedang berbicara dengan ibunya. Tumpukan rapor sudah hampir habis dibagikan. Guru perempuan itu membuka buku penilaian sambil tersenyum tipis.

"Secara akademik, Maya sangat pintar, Bu," katanya lembut. "Nilai membaca dan matematikanya termasuk yang terbaik."

Ibunya tersenyum bangga.

"Puji Tuhan, Bu."

"Tapi saya juga ingin menyampaikan sesuatu. Maya ini sangat pendiam. Dia jarang berbicara dengan teman-temannya."

Ibunya mengangguk pelan. "Memang dari kecil begitu, Bu."

Guru itu menarik napas sebentar sebelum melanjutkan. "Selain itu, beberapa kali ada laporan bahwa Maya suka menyakiti teman-temannya. Ada yang dicubit sampai menangis, ada yang didorong, bahkan pernah melempar penghapus ke kepala temannya."

Senyum di wajah ibunya perlahan memudar. "Benarkah begitu?"

"Saya tidak bermaksud menyalahkan. Saya hanya berharap Maya mendapat perhatian lebih. Kadang dia seperti memendam sesuatu," jelas sang guru.

Ibu terdiam cukup lama sambil menatap rapor di tangannya. "Terima kasih sudah memberitahu saya, Bu."

Sementara itu, Maya masih menunggu di luar kelas. Angin siang bertiup pelan menerbangkan beberapa daun kering di halaman sekolah. Ia melihat beberapa murid berjalan pulang bersama orang tua mereka. Perutnya mulai lapar dan ia berharap ibunya segera selesai. Namun langkah beberapa anak justru berhenti di hadapannya.

Maya mengangkat kepala. Ia mengenali mereka. Beberapa temannya datang menghampiri. Mereka adalah anak-anak yang pernah bertengkar dengannya selama setahun terakhir. Maya berusaha untuk tidak menghiraukan mereka.

"Ih, lihat deh mukanya. Judes gitu," ucap salah seorang teman perempuannya. Dia merujuk pada Wajah Maya yang memang delalu terlihat marah dengan alis yang sering terkernyit. "Mirip babi ngepet!"

Teman lelakinya menyungging lalu berkata dengan nada mengejek. "Ya, kan, memang keluarganya pelihara babi ngepet."

Anak-anak lain lalu tertawa. "Iya! Babi itu najis!" seru yang lain. "Balikin uang bapak sayal!"

Lihat selengkapnya