Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #14

Will Bukan Binatang Agresif


Bagi anak-anak perempuan Bapak, tidak ada yang namanya berwisata saat musim libur sekolah bersamanya. Rani sangat tahu itu. Selama delapan belas tahun hidup bersama orangtuanya, Rani hanya pernah pergi berlibur bersama Bapak tiga kali, itu pun ketika ada Will sebelum menghilang, dan Bapak hanya berinteraksi dengan anak laki-lakinya itu. Namun berbeda dengan musim libur sekolah tahun ini, Ibu mengajak Keluarganya pergi ke Jogjakarta bersama Bapak.

Awalnya Ibu merencanakan liburan itu hanya mengajak anak-anak perempuannya, tetapi agar Bapak lebih dekat dengan anak-anak perempuannya, kali ini dia mengajak Bapak juga. Setelah selama seminggu membujuk, akhirnya Bapak mau, tetapi dengan syarat Will harus diajak juga. Meski tidak terlalu suka, Ibu terpaksa setuju.

Semua sudah serba siap di hari keberangkatan, tapi ternyata Rani memutuskan untuk tidak jadi ikut. Alasannya karena dia punya agenda mendadak bersama pacarnya. Ibu tahu itu hanya sekedar alasan. Karena yang sesungguhnya adalah, sama seperti Ibu sendiri, Rani tidak terlalu suka binatang peliharaan itu ikut. Mungkin karena Bapak hanya akan berinteraksi dengan babi itu seperti dahulu bersama Will. Apalagi itu adalah hewan yang membutuhkan perhatian khusus jika harus berada di tempat umum. Konsentrasi Bapak pasti akan fokus padanya. Itu juga yang membuat Ibu tidak suka meski harus terpaksa setuju. Maka hilanglah niat Ibu untuk mempererat hubungan anak perempuannya itu dengan Bapak.

"Kakak beneran nggak jadi ikut?"

Raut wajah Putri agak cemberut ketika menanyakan hal itu pada Rani yang baru saja keluar dari rumah dari pintu depan lalu menghampiri gazebo. Rani tersenyum dan duduk di samping adiknya itu.

"Nggak ah. Kakak mau kencan sama pacar kakak saja, daripada sama babi," ucap Rani terkesan sinis. Tapi Putri tahu itu hanya bercanda.

Wajah cemberut Putri pun berubah. Dia tersenyum geli. "Tapi, hari munggu nanti, jadi kan antar Putri lagi?" tanya adiknya itu kemudian.

"Jadi dong," jawab Rani. "Nanti mah kakak mau ajarin kamu naik motor, biar lain kali bisa bawa motor sendiri," tambahnya. Putri mengangguk.

Tidak berapa lama suara motor vespa terdengar dari kejauhan, terus mendekat, hingga berhenti di depan pintu gerbang rumah. Kemudian, lelaki berambut ikal panjang itu pun masuk ke halaman sambil melepas helm. Dia tersenyum begitu melihat Rani dan adik-adiknya di gazebo dan langsung menghampiri.

"Ran," panggilnya. "Kita mau ke mana sih?" tanyanya begitu samapai di hadapan Rani.

Namun sebelum dijawab, Ibu datang dari pintu depan dengan pakain kasualnya. "Eh, Raka. Kalian beneran nggak ikut sama kami."

"Tadinya mau, Tante. Tapi—"

"Kita mau ke puncak, Bu. Pergi sama anak-anak juga, sama Ijal, sama Bimo. Sekalian mau ngerayain kelulusan kita juga." Rani memotong ucapan Raka. Lelaki itu kemudian menyalami Ibu.

Dari gelagat Rani, Ibu tahu itu tidak benar. Tetapi jika pun benar ibu tidak bisa melarang juga. Karena anak sulungnya itu sudah besar dan tahu anak seusia itu tidak mau dilarang-larang seperti dirinya dahulu.

Tidak jauh dari sana, Bapak tampak keluar dari balik tembok belakang rumah. Dia baru saja memandikan dan mengeringkan babi peliharaannya. Bapak sempat melirik ke Gazebo saat menyampirkan handuk milik will di tali jemuran. Saat berjalan ke pintu dapur, Bapak melihat Raka. Namun tidak ada reaksi apapun darinya saat pacar putrinya itu mengangguk dan tersenyum untuk menyapanya. Bapak malah masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri sebelum berangkat.

Rani pun akan bergegas pergi. Sepertinya dia jengah dengan sikap Bapak. Hal itu terlihat saat Rani memutar bola matanya ke atas dan memasang wajah sinis sebelum beranjak berdiri.

"Hati-hati, Kak," ucap Putri.

Lihat selengkapnya