Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Bapak keluar dari pintu kanan bersama babi peliharaannya. Seorang pria di belakang setir terlihat mengernyitkan dahi saat Bapak mengucapkan terima kasih padanya melalui jendela, lalu pria itu membalikan badan untuk melihat kursi belakang yang tadi digunakan Bapak dan babinya duduk. Tak lama setelah itu, tanpa berpamitan, dia langsung mengemudikan mobil melaju kembali masih dengan wajah itu.
Bapak kemudian berdiri di depan gerbang. Rani yang diharapkan ada di rumah, ternyata belum pulang karena gembok masih terlihat dikunci.
"Halo, Rani?"
Beberapa saat tidak ada jawaban. "Maaf dengan siapa, ya?"
"Ini Bapak." Suara itu terdengar berat dan ragu. "Kamu nggak simpan nomor Bapak?" tanyanya.
Kembali tidak ada suara di seberang sana, tapi sesaat kemudian embusan napas berat terdengar. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Bapak ada di depan gerbang rumah. Kunci pintu gerbang cadangan ada sama kamu kan, Ran?"
"Lah. Bapak nggak jadi ikut ke Jogja? Ibu sama yang lainnya mana?"
Bapak sempat terdiam sejenak, seakan ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya. "Putri kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit sama Ibu, sama Maya."
Tidak ada lagi suara tedengar di seberang sana. Bapak masih menunggu respon Rani. Tapi yang terdengar malah bunyi sambungan yang terputus. Sepertinya, Rani tidak ingin berbicara lama-lama dengan Bapak, karena beberapa detik kemudian suara pesan masuk terdengar. Ketika Bapak melihatnya, Rani mengirim pesan dengan kalimat singkat bahwa dirinya akan segera pulang.
Bapak pun menunggu di depan gerbang, terduduk bersama babi peliharaannya yang sudah tenang di sampingnya. Padahal beberapa jam lalu Will menunjukkan perilaku keagresifannya. Salah aatu warga bahkan jadi korban serudukan Will saat akan menangkapnya, meski luka yang dialaminya tidak parah, tapi Bapak langsung meminta maaf. Bapak sampai harus mengejar-ngejar jauh ke dalam pemukiman warga selama dua jam lebih karena babi itu panik dan ketakutan. Apalagi orang-orang yang melihatnya berteriak bahwa ada babi ngepet berkeliaran. Bapak paham apa yang mungkin dipikirkan warga ketika melihat binatang yang menurut mereka haram itu. Beruntung Bapak bisa menjelaskan pada mereka kalau binatang itu adalah babi peliharaannya yang kabur.
Setelah berhasil menangkap dan menenangkan Will, Bapak langsung memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Niatnya hanya ingin mengantarkan babi peliharaannya saja setelah itu pergi menyusul ke rumah sakit untuk melihat keadaan Putri.
Setengah jam Bapak menunggu, tetapi Rani belum juga datang. Bapak sempat berpikir untuk memanjat saja pintu gerbang saat beranjak berdiri dan melihat pagar itu yang tidak terlalu tinggi. Namun, sepertinya Will mengerti keinginan Bapak saat melihatnya berdiri di sana dan akhirnya ia berlari sambil mengeluarkan suara gerung rendah seakan menyuruh Bapak mengikutinya. Bapak pun melangkah untuk mengejar Will yang bergerak menuju belakang.
"Oh." Bapak tersenyum. "Terima kasih, Will."
Bapak baru sadar bahwa tepat di pintu pagar belakang rumah itu ada satu pintu kecil di bawahnya yang bahkan dibuat olehnya untuk memudahkan Will keluar masuk halaman rumah. Meski sempat ragu karena lubang pintu itu hanya cukup untuk badan Will saja, Bapak pun mencobanya dan behasil masuk melaluinya.