Tiga hari, yang seharusnya digunakan untuk liburan di Jogjakarta, terpaksa harus Putri habiskan di atas kasur bangsal rumah sakit. Selama itu dia belum juga sadarkan diri. Meskipun alat pendeteksi denyut jantung menunjukkan tekanan darah normal dan stabil, tetapi detaknya lemah. Sebelum pulang kemarin, Ibu memberitahu bahwa Putri mengalami banyak pendarahan akibat luka robek di paha, dada, dan terparah di leher karena itu dekat dengan urat nadi. Bapak tidak menyangka kalau taring Will bisa setajam pisau dan hampir merobek kerongkongan anak perempuannya.
Semestinya hari ini Ibu yang bergiliran untuk menjaga Putri, tetapi Ibu meminta Bapak tetap di rumah sakit karena ada yang harus dikerjakannya di rumah.
Bapak tidak masalah dengan itu. Tetapi dia minta Ibu agar memberi makan Will dan menitipkan laptop pada Rani untuk dibawa agar dirinya bisa sambil bekerja di sana. Kemarin siang pada saat Bapak diminta giliran jaga, dirinya langsung memutuskan untuk memindahkan Putri dari bangsal umum ke kamar kelas 1-privat yang merupakan satu ruang khusus. Bapak sengaja melakukan itu agar bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya. Ibu sendiri belum mengetahui letak kamar yang ada di gedung yang berbeda, meski sudah mengirim pesan padanya tentang kepindahan itu melalui pesan whatsapp.
Seperti yang diinginkan Bapak, suasana kamar itu sepi. Hanya ada suara rendah mesin yang melengking statis berkali-kali tanpa henti seiring lampu kecil merah di tepi monitor itu berkedip. Suara itulah yang seakan mengusik kesadaran Putri. Matanya mulai bergerak-gerak di belakang kelopaknya dan sesaat kemudian secara perlahan mulai bergerak terbuka memperlihatkan isinya. Untuk beberapa detik, gadis itu tidak menyadari berada di mana. Hingga kesunyian yang sedang berjalan di sekitarnya membuat kesadarannya mulai sepenuhnya terkumpul dan dengan cepat membawanya pada ketakutan itu lagi. Tetapi karena tubuhnya masih lemah, Putri tidak mampu melakukan apa-apa.
Degup jantung gadis itu mulai cepat berdetak, memicu suara lengking mesin yang juga semakin cepat. Napas menghela berat, sekali saja, sebelum tertahan di tenggorokannya. Gadis itu panik. Matanya mencari-cari sosok yang bisa membuat dirinya aman: Ibu.
Namun, yang dia temukan justru Bapak. Dia duduk di sofa yang ada di seberang kiri ranjangnya dekat dinding belakang meja rendah, sedang tenang tapi serius menatap laptop. Mengetahui keberadaan Bapak, perlahan napasnya mulai lancar menghela kembali dan detak jantungnya pun kembali memelan. Entah apa yang sedang dikerjakan Bapak di laptopnya hingga tidak menyadari suara mesin pendeteksi denyut jantung itu sempat meninggi.
“Putri?” ucap Bapak. Baru setelah beberapa saat kemudian Bapak melihat mata anak perempuannya sudah terbuka ketika menengok ke ranjang. Dia beranjak dari kursi, melirik sebentar monitor, dan kemudian menghampiri Putri. “Kamu sudah sadar?”
Tentu saja Putri tidak menjawab. Perban yang melilit leher dan masker oksigen di mulutnya tidak memungkinkannya bicara. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Bapak pun bergegas memanggil suster jaga untuk membiarkan mereka mengurusnya.
Lima jam berlalu.
Walaupun sudah mulai berangsur pulih, tetapi sesekali Putri masih harus memakai masker oksigen untuk membantunya bernapas. Selang infusan dan alat pendeteksi denyut jantung sudah diperbolehkan lepas dari tubuhnya. Dokter bilang tubuhnya menunjukkan peningkatan daya tahan yang positif. Kini dia tersadar sepenuhnya meski tubuhnya masih lemah.
“Makan yang banyak, Put. Biar cepat sembuh.”
Entah itu benar atau tidak, tapi kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rani saat membuka bungkus makanan yang dibawanya dari rumah. Putri sendiri sedang duduk di atas ranjangnya, terdiam, dan tidak merespons nasihat Rani. Meskipun begitu Putri tetap tidak menolak ketika kakak sulungnya itu menyuapi.
Sementara itu, Bapak duduk di sofa dan masih berkutat dengan laptopnya. Beberapa saat kemudian, dia tampak menyudahi pekerjaannya dan langsung merebahkan badan sofa, mengurangi pegal yang sedari tadi membebaninya. Terdengar embusan napas berat setelahnya. Matanya memejam, menikmati lelah yang luruh pada badan sofa itu. Matanya terbuka kembali lalu bangkit untuk mengambil sebatang rokok dalam bungkusannya di meja. Rani menoleh padanya saat tangan Bapak mulai merogoh sesuatu di saku celana untuk mencari korek api. Begitu tidak menemukan yang dicari, Bapak melirik pada Rani yang masih menyuapi Putri dengan maksud akan bertanya padanya. Tetapi ketika melihat wajah anak perempuannya itu, dia urung, dan langsung melepaskan rokok itu dati mulutnya.
“Ibu sebenarnya lagi ngerjain apa di rumah? Kok lama betul, ya, Ran?” tanya Bapak.
“Nggak tahu,” jawab Rani ketus.
Bapak yang sudah terbiasa dengan perangai anak sulungnya itu tidak mengambil hati atas jawabannya. Yang dia lakukan selanjutnya adalah menanyakannya langsung pada Ibu melalui pesan, sekalian bertanya kapan dia akan datang. Tetapi setelah lama menunggu, istrinya itu belum juga menjawab.