Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #17

Kesimpulan Perbincangan Rani dan Raka Tentang Bapak


“Mau yang mana?”

Jari telunjuk Raka tengah siap di depan deretan tombol mesin minuman. Rani tampak tercenung berdiri di sampingnya dengan wajah muram dan melipat kedua tangan di dada. Lelaki gondrong belah tengah itu menunggu.

“Terserah,” jawab Rani setelah menyadari Raka menatapnya. “Eh. Gula asam saja,” ucapnya kemudian, mengoreksi jawaban sebelumnya.

Lelaki itu mengangkat alisnya lalu segera menekan tombol dari jenis minuman yang pacarnya mau dua kali. Setelah dua botol bergambar buah tamarin itu jatuh keluar, Raka kemudian mengambilnya dan memberikan satu pada Rani lalu lekas pergi dari hadapan mesin itu karena ada orang yang sedang mengantri di belakangnya. Mereka pun melangkah berdua di koridor menuju luar lobi. Taman yang mereka lihat di belakang gedung saat berjalan mencari minuman adalah tujuannya. Rani sepertinya ingin menenangkan diri setelah mengungkapkan kekesalannya yang ditanggapi dingin oleh Bapak.

“Aku pikir aku akan dihantam, atau paling tidak bapakmu akan marah padaku begitu mengetahui kamu hamil.” Dengan sedikit terkekeh, Raka mengawali obrolan setelah beberapa saat terduduk di atas pagar beton taman dan menikmati minuman dingin itu.

“Sudah kubilang, Bapak tidak akan peduli,” ujar Rani.

Akan tetapi, saat mendengar itu, Raka menengok pada Rani dengan alis sedikit agak mengerut. “Entahlah, Ran. Menurutku tidak begitu.”

“Maksudnya?” Rani menoleh pada Raka dengan alis yang mengerut juga. Pandangannya berubah serius.

Raka memalingkan wajahnya ke depan. Dia mencari kata-kata yang tepat untuk memberi jawaban yang dipikirkannya tentang bapak Rani. Dia sungguh berhati-hati dengan apa yang akan keluar dari mulutnya sebab tidak ingin perempuannya itu salah paham. “Dia sepertinya pria yang bertanggung jawab,” ucapnya. “Maksudku, bukan karena Bapak bersedia menggelar pesta untuk pernikahan kita, tetapi aku merasakan ketulusan saat Bapak mengatakannya.”

“Apa maksud kamu dengan ketulusan Bapak, Raka? Kamu tidak tahu bagaimana dia di rumah.”

“Iya, aku tidak tahu, Ran. Aku orang luar. Tapi justru karena itu aku melihat yang tidak kamu lihat.”

“Apa sih maksudnya? Bapak itu tidak peduli sama aku, sama Putri, sama Maya. Dia hanya peduli sama babinya itu, sama Will.”

“Kalau tidak peduli Bapak tidak akan mau jaga Putri sampai dua malam berturut-turut.”

“Itu karena Ibu yang minta. Bukan karena dia mau. Bapak hanya hadir di sana, tanpa benar-benar di sana. Dia masih mengurusi pekerjaan dan sering sekali tanya soal Will. Dia tidak pernah bertanya kabarku, atau kabar Maya.”

“Tapi dia bertanya apa kamu sedang hamil? Itu artinya dia memperhatikan kamu, Ran,” ucap Raka. “Sebenarnya dia peduli. Hanya saja....”

“Hanya saja, apa?” Rani menatap lekat Raka.

Sejenak berpikir, Raka menengok kembali pada Rani. “Sepertinya dia tidak biasa mengungkapkan kepeduliannya. Dia tidak bisa, apa ya, seperti tidak tahu caranya mengungkapkan bahwa dirinya peduli pada anak-anak perempuannya,” jelas Raka. “Dan menurutku kebanyakan pria seperti itu.”

Lihat selengkapnya