Seharusnya Ibu sudah pergi pagi-pagi untuk menggantikan Bapak menjaga Putri, tetapi ada para petugas yang sedang Ibu tunggu yang hingga siang menjelang sore ini tidak kunjung datang. Mereka adalah para petugas dari Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana yang akan membawa Will ke penangkaran hewan liar.
Kemarin Ibu pergi bersama Maya ke kantor DKPP Kota Bandung dengan maksud melaporkan babi peliharaan bapak untuk dibawa agar tidak mencelakai lagi anggota keluarganya, terutama Putri yang mungkin akan trauma setelah mendapatkan puluhan jahitan pada luka-luka di sekujur tubuhnya akibat diseruduk secara membabi buta oleh Will. Akan tetapi Ibu tidak langsung mendapatkan tanggapan yang dia inginkan di sana. Salah seorang petugas itu menerima laporan Ibu tetapi tidak lantas segera pergi ke rumah untuk mengevakuasi. Mereka berkata akan segera berkoordinasi dengan Tim Rescue Diskar PB yang berwenang melakukan penangkapan.
“Kami tidak bisa melakukan itu, Bu. Yang bertugas menangkap babi itu tetap Diskar. Mungkin nanti siang atau sore kami dan petugas Diskar akan langsung pergi ke rumah ibu.”
“Apa bisa langsung dibawa?”
“Bisa. Kalau itu memang ada potensi membahayakan keluarga ibu.”
“Baiklah. Saya boleh minta nomor telepon agar bisa menghubungi nanti?”
Petugas berseragam cokelat itu mengangguk dan langsung memberikan nomor Whatsapp kantor. “Sebenarnya dari mana suami ibu bisa mendapatkan babi liar itu?” Petugas itu bertanya dengan wajah serius. Suaranya yang mirip tokoh Pak Raden dalam film Si Unyil, membuat Ibu sedikit terintimidasi.
Ibu terduduk sambil mengisi nomor yang tertera di ponsel petugas itu ke laman nomor baru di ponselnya. “Dulu Bapak membawa pulang setelah mendaki gunung,” jawab Ibu singkat saja. Dia sengaja tidak memberitahu latar belakang kenapa Bapak membawa babi itu pulang yang menurutnya memang tidak perlu.
Petugas itu mengangguk.
Setelah mendapatkan nomor itu, Ibu dipersilahkan pulang oleh petugas itu dan menyuruhnya untuk menunggu di rumah. Dengan berat hati Ibu melangkah keluar kantor, menghampiri Maya yang sudah menunggunya, lalu menuntunnya ke parkiran mobil dan segera pulang.
Akan tetapi, setelah seharian gelisah menunggu di rumah, para petugas itu ternyata tidak kunjung datang. Ibu kemudian menelepon nomor yang diberikan itu saat hari menjelang magrib. Tapi Ibu mendapatkan jawaban yang membuatnya harus meraup sabar sebanyak mungkin.
“Maaf, Bu. Kami belum bisa ke rumah ibu. Mungkin besok petugas kami dan tim rescue dari Diskar akan langsung ke sana,” ucap suara Pak Raden di seberang sana.
Hari yang dijanjikan pun tiba. Ibu sudah gelisah membayangkan bagaimana kalau petugas itu tidak datang hari ini. Sedangkan dirinya harus mengganti giliran jaga di rumah sakit. Tentu saja Ibu tidak mau kalau Bapak yang menerima para petugas itu besok atau sore nanti jika jadi datang. Karena pasti Bapak akan menolak dan mungkin bahkan marah besar jika mengetahui Ibu berniat menyingkirkan Will dari rumah secara diam-diam. Kecuali Maya, Tidak ada anggota keluarga lain yang tahu termasuk Rani.
Ibu sedang duduk dan berkali-kali melihat ke arah luar lalu meraih ponsel yang ditaruhnya di lantai gazebo untuk melihat sekali lagi pesan whatsapp yang dikirimnya pada petugas itu yang tidak kunjung dibalas padahal sudah terbaca. Mungkin Bapak juga merasakan kegelisahan yang sama sebab di baris lain, pesan-pesan darinya yang mempertanyakan keberadaan Ibu sengaja tidak dibuka. Pun telepon dari Bapak tak Ibu angkat. Saat akan menutup, Ibu melihat angka 14:35 di layar awal ponsel itu.
Helaan napas berat keluar dari mulut Ibu. “Ayo, Maya. Kita berangkat sekarang.” Ibu beranjak dari gazebo.
Maya pun menoleh pada Ibu kemudian gegas berdiri dan berjalan ke parkiran mobil tepat di halaman mengikuti tuntunan Ibu.