Bapak terduduk gelisah di meja bar dapur menunggu matahari muncul di cakrawala meski cahayanya tengah membias langit pagi yang berawan di atas sana. Lukisan indah yang diabaikan sebab sejak subuh Bapak berkali-kali keluar rumah, berjalan di taman, duduk ke gazebo, dan kembali lagi ke meja bar dapur sambil terus melihat pintu pagar belakang rumah. Saat matahari sudah menerangi seluruh taman, Will yang harapkan pulang tidak kunjung muncul di sana.
Sambil menyampirkan handuk dibahunya, Bapak berjalan ke pintu pagar itu lagi dan meletakkan sepotong pepaya di depannya, lalu kembali ke ambang pintu dapur. Begitu satu batang rokok habis, dia beranjak masuk ke kamar mandi. Setelah selesai melakukan ritual itu, dia kembali ke ambang pintu dan mengecek sekali lagi pintu pagar belakang.
“Baru mau mandi?”
“Eh. Rani?” Bapak terkejut dengan kedatangan anak sulungnya itu dari tangga. Bapak tidak tahu kapan Rani pulang semalam. “Baru selesai,” jawabnya, singkat.
“Hari ini kerja, kan?” tanya Rani sambil melenggang ke area dapur.
Bapak mengangguk. Kemudian Bapak pergi ke kamarnya, tetapi berhenti saat teringat sesuatu. “Ran, tolong buatkan Bapak nasi goreng, ya. Pake telur diceplok.”
Sebenarnya Rani memang akan memasak untuk Bapak tanpa diminta sekalipun. Tapi, yang membuatnya sempat terdiam menatap Bapak masuk ke kamarnya adalah percakapan dirinya bersama Raka kemarin. Rani yakin Bapak bisa memasak kalau hanya sepiring nasi goreng untuk dirinya sendiri. Namun, Bapak memilih menyuruh dirinya. Itu artinya Bapak masih belum mau menunjukkan diri mengurusi urusan rumah tangga.
Setengah jam berlalu. Dua porsi nasi goreng sudah tersaji di meja bar dapur, tepat di depan Bapak duduk di paling ujung dan Rani di ujung satunya.
Tidak ada percakapan di antaranya. Hanya suara denting sendok garpu menari di atas piring. Rani merasa ada yang kurang pada pagi yang memang selalu dingin di lingkungan itu. Begitu dia menengok ke taman melalui jendela dapur, barulah dia menyadari sesuatu.
“Will mana?” tanya Rani seraya melirik Bapak.
Bapak menggeleng pelan. “Nggak tahu, sejak kemarin Bapak juga belum lihat. Mungkin pergi ke hutan belakang kompleks lagi,” jawabnya. “Biarlah, nanti juga pulang,” imbuhnya.
Rani mengangguk-angguk.
Duduk berdua di meja makan pada pagi hari bersama Bapak adalah momen yang langka di rumah. Biasanya Bapak sudah lebih dulu sarapan sebelum Rani turun dari lantai dua. Bapak akan terlihat sedang mengurus Will di taman saat sarapan bersama adik-adiknya. Selain Rani, kelangkaan itu sepertinya disadari Bapak juga. Berkali-kali dirinya melirik anak sulungnya, seperti ingin memulai percakapan.
“Apa ibu sudah tahu?” Akhirnya Bapak bertanya, langsung saja tanpa basa-basi. Suaranya agak bergetar. Yang dimaksud Bapak adalah tentang kehamilan Rani.
Rani pun mengangguk.
“Apa dia marah?”
Rani menyungging. “Pastilah Ibu marah.” Rani sempat melirik pada Bapak. Setelah itu dia pun mulai menceritakan kemarahan Ibunya kemarin begitu mengaku padanya.
Sebelumnya, Rani dan Raka memang sudah berencana akan untuk mengaku pada Ibu sebagai bentuk pertanggungjawaban, yang merupakan salah satu rencana masa depan mereka. Di mana mereka akan memulai hidup bersama sebagai suami istri dan akan tinggal di rumah Raka bersama ibunya. Mereka akan melakukan pengakuan itu di rumah setelah putri pulang dan semua dalam kondisi baik-baik saja, akan tetapi Rani kedapatan mual dan muntah lagi yang memicu kecurigaan Ibu waktu di rumah sakit menjaga Putri. Mau tidak mau, Rani harus jujur menjawab ketika Ibu mempertanyakan kecurigaannya.
Awalnya ibu memilih tidak percaya, tetapi sebagai seorang perempuan dia tahu pengakuan Rani itu benar. Tidak seperti Bapak, Ibu justru langsung mencecar anak perempuan sulungnya itu.