Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #20

Rumah Tanpa Keluarga atau Tanpa Will


Dua hari setelah kepulangan Putri ke rumah, Bapak masih gelisah pada Will yang tidak kunjung pulang. Maka dari itu dia memutuskan untuk pergi ke hutan belakang kompleks untuk mencarinya. Sementara Bapak bersiap dengan segala perlengkapan yang akan dibawanya di dalam rumah, Ibu dan dua anak perempuannya sedang menikmati cerahnya minggu pagi sambil membicarakan tentang mereka yang akan kembali ke sekolah esok hari.

“Kamu yakin mau berangkat saja besok, Put?” tanya Ibu.

Putri mengangguk sambil menonton video Youtube di ponselnya. Punggungnya menyender ke pagar kayu gazebo yang dilapisi bantal.

“Lukamu memang sudah sembuh, tapi belum kering, Put. Kalau masih merasa sakit. Jangan berangkat dulu ya. Biar ibu besok yang ke sekolah kasih tahu mereka.”

“Nggak apa-apa, Bu. Paling besok masa pengenalan sekolah saja.”

Ibu mengangkat sepotong roti bakar dari piring dengan garpu dan menyodorkannya ke mulut Putri. “Tapi Ibu antar ke sekolah biar Ibu bilang kamu nggak usah ikut acara itu. Duduk saja sama Ibu nonton mereka.” Sambil mengunyah, Putri mengangguk.

Sebenarnya Putri belum terdaftar sebagai siswa SMA. SMA yang sama dengan Rani bersekolah sebelumnya. Sebab Ibu tidak ada waktu untuk mendaftarkan Putri karena harus berada di rumah sakit. Ibu akan melakukannya besok bersama dengan hari pertama masuk sekolah itu. Dirinya sudah mengenal guru-guru di sana dan meminta izin atas keterlambatan pendaftaran di pesan Whatsapp. Saat Ibu bilang ada urusan yang harus dikerjakan di rumah ketika Bapak menjaga Putri, Bapak pikir itu adalah tentang pendaftaran itu. Makanya dia tidak bertanya lebih lanjut.

“Sudah setahun kita di sini, ya, Put,” ucap Ibu.

“Lebih.” Putri mengoreksi. Dia ingat sebab waktu itu dirinya masuk ke SMP di pertengahan kelas 2.

Ibu pun tersenyum. “Menurut kamu, lebih suka di sini atau di Bekasi?” tanya Ibu.

“Sama saja.” Putri menjawab.

Mendengar jawaban Putri, senyum Ibu memudar. Dia tahu persis apa yang dimaksud sama saja oleh Putri. Anak perempuan keduanya itu tidak terlalu punya banyak teman baik di Bandung ataupun Bekasi. Adapun dia bergabung ke komunitas tari sebab tuntutan dari studio tari tempatnya berlatih yang mengharuskan mereka membuat kelompok untuk sebuah pentas. Lagi pula, Putri harus selalu diantar Rani atau Ibu saat pergi berlatih.

Sedangkan di lingkungan kompleks, tidak ada anak-anak sebaya Putri atau Maya yang berteman dengan mereka. Kecuali Rani yang memang sudah dibebaskan untuk keluar rumah tanpa izin Ibu, dua anak perempuan lainnya belum diperbolehkan. Bukan karena mereka dikekang, melainkan karena Ibu sendiri ingin menyembunyikan keberadaan babi peliharaan Bapak dari tetangganya. Walaupun beberapa dari mereka mungkin sudah mengetahuinya sebab Bapak hampir setiap minggu membawa Will keluar rumah untuk jalan-jalan.

Hal itu membuat keluarganya dinilai sebagai tetangga yang tertutup dari lingkungan. Ibu bukannya tidak menyadari itu. Makanya jika tidak ada orang di rumah, sesekali dirinya keluar menemui tetangga dan mengobrol ringan. Selama lebih dari setahun ini, dirinya hanya mengenal keluarga depan rumah dan dua tiga nama tetangganya yang lain. Mungkin setelah tidak adanya binatang itu, Ibu akan mulai lebih terbuka pada lingkungan. Terlebih karena Putri dan Maya butuh teman.

“Kalau menurut kamu gimana?” Ibu mengalihkan pertanyaan itu pada Maya.

Anak perempuan berambut lurus milik ibunya itu sejenak berpikir. “Sama saja, Bu,” jawabnya pelan. “Yang penting nggak ada Will,” imbuhnya. Dia tersenyum lalu menggigit roti bakar yang sedari tadi ada di dua genggaman tangannya.

Sesaat kemudian, Ibu dan Maya melihat Bapak keluar melalui pintu dapur dengan pakaian yang biasa dipakai untuk membawa Will jalan-jalan: kaos oblong yang dipadu jaket rompi, celana pendek PDL, sendal gunung, topi rimba hijau, serta tas selempang yang kali ini dijadikan tas pinggang. Satu tangannya sedang memegang keresek yang dari bentuk yang mencetak bagian bawah sepertinya itu adalah satu buah pepaya utuh.

Maya yang mengetahui Bapak akan ke mana, lalu meletakkan roti bakarnya yang baru habis tiga gigitan ke piring di atas selonjoran kakinya. Kemudian dia menggeser piring itu ke lantai dan segera beranjak dari gazebo menghampiri Bapak.

“Pak, Maya ikut ya?” ucap Maya saat sedang mendekati Bapak. Dia tampak tersenyum sebab yakin Bapak akan memenuhi keinginannya.

Namun, jawaban Bapak langsung membuat senyum itu pudar seketika. “Jangan. Kamu sama Ibu saja, May. Bapak mau cari Will. Sudah empat hari dia nggak pulang. Takutnya lama.”

Maya berhenti sebelum benar-benar dekat dengan Bapak. Wajahnya berubah cemberut. Bapak yang melihatnya kemudian memanggil Ibu dengan mengangkat tangan agar membawa Maya.

“Lain kali saja, ya, May.” Tanpa melangkah maju ke hadapan Maya, Bapak berucap yang membuat bibir Maya semakin rapat melengkung ke bawah.

Ibu turun dari gazebo dan menghampiri Maya yang masih berdiri melihat Bapak. “Ayo, May. Dimakan lagi rotinya.”

“Maya mau ikut Bapak,” ucap Maya. Suaranya parau.

Ibu menatap Bapak yang sedang berwajah serius. “Lain kali saja. Bapak mau cari Will,” ucap Ibu. Maya beralih menatap Ibu sebentar saja lalu menunduk. “Ayo,” ajak Ibu.

Lihat selengkapnya