"Bapak? Bapaaak?" Rani berdiri di depan pintu depan rumah yang terkunci dan memanggil.
"Nggak ada orang?" tanya Raka yang baru saja menutup bagasi belakang mobil, membawa beberapa keresek belanjaan, dan menghampiri Rani.
Rani mengangkat kedua bahu. "Tapi lampunya nyala," selidiknya.
Perempuan yang tengah berbadan dua itu pun beranjak melangkah ke taman samping rumah untuk menuju pintu dapur. Sesekali dia melihat taman yang dilaluinya tampak gersang. Daun-daun tanaman di pot sudah menguning seperti tidak terawat. Biasanya Ibu yang memetik daun mati itu. Dari jendela, lampu-lampu tampak menyala. Jendela sentiri terlihat kotor berkerak debu. Rani mendapati pintu itu tidak terkunci saat membukanya. Kemudian Rani dan Raka masuk setelah sempat saling pandang seolah tidak yakin Bapak ada di dalam rumah.
Namun, baru sampai depan kamar mandi, Rani melihat Bapak sedang berdiri di ambang pintunya memegang selang dan memandikan babi peliharaannya di dalam sana sambil merokok. Suara air itu deras menggema di dalam kamar mandi. Mungkin itu yang membuat Bapak tidak mendenggar panggilan Rani.
"Eh kalian?"
Rani dan Raka pun menyapa Bapak di dalam sana kemudian melangkah masuk ke dapur.
"Bapak sudah makan malam? Rani masak ya?" teriak Rani.
Tak ada jawaban dari kamar mandi sana. Namun, Rani tetap mempersiapkan diri untuk memasak. Sebelum mengambil peralatan masak, Rani memasang wajah jijik begitu melihat piring-piring, gelas, dan alat makan lain yang tertumpuk kotor di wastafel. Dia mengembus napas berat. Raka yang menyadari itu langsung berdiri dari kursi meja bar dan mengambil alih pekerjaan itu sebelum Rani memulainya.
Entah apa yang dikerjakan Bapak selama tiga bulan di rumah semenjak ditinggal ibu. Setelah mengeringkan Will dengan handuk, Bapak lalu membawanya ke kamar di pojokan dapur itu dan menguncinya di dalam sana.
"Maaf merepotkan," ujar Bapak pada Raka yang sedang mencuci piring. Suaranya terdengar kaku dan canggung. Raka hanya tersenyum untuk menangapinya. Kemudian Bapak melangkah ke meja bar dan duduk di kursi tinggi lalu menyalakan laptop.
Rani yang tengah sibuk dengan bumbu-bumbu sempat melirik Bapak. Alisnya beradu. Wajahnya muram, seakan mengasihani nasib Bapaknya.