Usia Rani baru menginjak delapan belas ketika memutuskan untuk menikah dengan Raka karena hamil dahulu. Tetapi Raka bukan tipe pria berengsek yang lepas tanggung jawab begitu saja. Seperti janjinya pada Ibu, Raka akan menjaga Rani seumur hidupnya. Meskipun begitu, Ibu tetap ragu pada janji itu. Tentu saja sebagai orang yang paling dikecewakan dan paling khawatir akan masa depan anak perempuan pertamanya dalam perkara itu, Ibu berkali-kali mempertanyakan kesungguhan juga kesiapan mereka dalam menjalani kehidupan pernikahan baik kepada Rani atau Raka. Dan berkali-kali pula mereka mereka meyakinkan Ibu bahwa keputusannya itu sudah teguh, terutama Raka yang sangat memahami keraguan calon mertuanya itu.
"Tapi Rani harus lanjut kuliah. Tidak boleh tidak," tegas Ibu.
Ibu sedang berada di rumah Raka. Setelah mengunjungi Bapak, Ibu datang ke sana untuk keperluan surat-surat yang harus ditandatanganinya. Di sana dia disambut orang tuanya Raka yang sudah sepuh. Suasana rumah bergaya oriental sangat terasa.
"Iya, Bu. Saya sudah membicarakan itu sama Rani. Dia akan kuliah tahun depan." Untuk yang kesekin kalinya, Raka meyakinkan.
Ibu menatap lelaki gondrong itu tanpa berkata-kata lagi. Tetapi keraguan itu masih tersirat di wajahnya. Bibirnya yang rapat bergetar seperti ada yang ingin dia sampaikan namun tertahan di dalam mulutnya. Raka menyadari itu. Sejenak dia melirik Rani di sampingnya. Perempuan itu memasang wajah muram, seakan tidak tega melihat ibu. Karena Rani tahu, di balik keraguannya itu tersimpan kepedulian yang teramat besar padanya, tersimpan kasih sayang seorang ibu yang mencemaskan masa depan anak perempuan sulungnya.
Lalu ungkapan yang tertahan itu kemudian dituang. "Ibu dulu kuliah. Ibu hanya tidak ingin anak-anakku tidak kuliah. Bagi ibu itu adalah perbuatan dosa jika tidak memberikan pendidikan yang sama seperti yang diberikan orangtua ibu. Ibu dan Bapak sudah mengatur keuangan bahkan semenjak Rani dan adik-adiknya masih bayi. Menikah itu bukan perkara mudah. Ibu hanya takut setelah menikah, Rani tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Sejak kecil, Ibu ingin dia punya pendidikan yang tinggi."
"Saya tidak akan menghentikan cita-cita Rani. Saya berjanji akan tetap menguliahkannya sampai selesai, bahkan kalau Rani ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, saya akan mendukungnya semampu saya," ucap Raka. "Bu. Saya mencintai Rani, tetapi saya juga menghargai impiannya. Saya tidak ingin menjadi alasan Rani berhenti belajar. Kami akan mengurusnya bersama, Bu. Rumah tangga adalah tanggung jawab suami dan istri. Saya tidak ingin membebani Rani hanya karena dia sedang mengejar pendidikannya. Selama saya masih mampu berusaha, kuliah Rani akan tetap menjadi prioritas."
Setelah Raka berkata demikian, wajah Ibu berubah. Meski keraguan itu amsih tersirat, tetapi bibirnya sudah tidak bergetar, berganti senyum yang dipaksakan. Raka sendiri sudah tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi pada ibu. Namun akhirnya, Ibu mau menandatangani surat yang sedari tadi tergeletak di atas meja di hadapannya.
Seorang wanita paruh baya berambut pirang sewarna karat tersenyum memandangi Ibu. Dia mamanya Raka. paling tidak begitulah Raka menyebut Ibunya: mama. Setelah Ibu menuntaskan tanda tangan, wanita itu berusaha melanjutkan obrolan dengan ramah. Usaha waralaba makanan yang sedang dijalankan Raka menjadi topik pembicaraan tersebut. Sepertinya dia ingin menunjukan bahwa anaknya sudah cukup mapan untuk menikahi Rani.
****
Setelah berbulan-bulan lamanya melakukan persiapan: menjalani ritual keagamaan pranikah dan menunggu surat persetujuan dari gereja, akhirnya mereka tiba di hari pemberkatan.
Alunan musik organ mengiringi langkah Rani sebagai mempelai wanita menuju altar diantar Bapak yang tampak gagah dengan setelan tuxedo hitam yang di saku jasnya terselip bunga edelweis. Itu adalah idenya sendiri. Seluruh tamu berdiri menyambut kedatangan mereka. Sementara Raka, sang mempelai pria, telah menunggu di depan altar bersama imam. Rambut gondrongnya sudah hilang, berganti gaya belah dua dengan potongan under cut.