Di belakang setir, Bapak terus menatap ke depan sambil mengendarai mobil yang sedang meluncur kencang di jalan tol menuju Bekasi. Wajah Bapak tampak tegang seakan ingin secepatnya sampai di tujuan. Sesekali embusan napas terdengar lebih dalam dan berat dari hidung dan mulutnya berusaha untuk melenyapkan kegelisahan yang menyerangnya. Sementara itu di kursi belakang, Putri dan Maya duduk memperhatikan Bapak tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka kejar. Mungkin di benak mereka bertanya-tanya, apa yang membuat Ibu dan Bapak terburu-buru pergi meninggalkan pernikahan kakaknya, Rani.
Ibu menoleh pada Bapak. Wajahnya tak jauh berbeda: menyiratkan cemas. Tidak ada percakapan sejak mereka pergi meninggalkan gereja itu. Ibu yang duduk di samping Bapak pun tidak berani bertanya lebih lanjut tentang kabar pulangnya Will ke rumah setelah hampir dua tahun menghilang.
Dua tahun bukanlah waktu singkat bagi mereka yang sudah merasa Will tidak akan kembali. Terutama Putri dan Maya—mungkin juga Rani. Tetapi tidak bagi Bapak. Entah apa yang ada di benak Bapak saat mendengar kabar itu. Selama ini, dia memilih untuk memelihara babi yang ditemukannya di hutan sebagai bentuk penyesalan sekaligus harapan bahwa mungkin suatu hari Will akan kembali. Dan suatu hari itu adalah hari ini.
Pandangan Bapak lurus ke depan, tetapi pikirannya tengah bolak balik ke hari di mana Will menghilang.
Kala itu matahari mulai condong ke barat ketika Bapak dan Will menuruni jalur pendakian. Bapak tampak berkali-kali memandang Will. Sebisa mungkin, Bapak memantau anak laki-lakinya itu berjalan di depan
Tiba-tiba Will tampak mengaduh sambil memegang perut. Sepertinya dia merasa mulas. Sebenarnya Bapak menyadari itu. Mungkin karena kebanyakan makan pepaya kesukaannya. Bocah itu berhenti berjalan lalu berbalik. Dia melihat Bapak yang masoh agak jauh berjalan lambat, yang sepertinya sengaja. Wajah Will tampak meringis dan seolah ingin meminta izin kepada Bapak. Tetapi mungkin karena teringat bagaimana dirinya sepanjang perjalanan terus mengatakan bahwa ia sudah besar dan mampu melakukan segala sesuatu sendiri. Keinginan untuk terlihat mandiri akhirnya mengalahkan keberaniannya untuk berbicara.
Suara deras sungai terdengar dekat, Will menoleh ke arah pepohonan yang tumbuh rapat di sisi jalur pendakian. Dengan langkah tergesa, tubuh kecilnya menerobos semak-semak menuju tepian sungai tanpa sempat memberi tahu Bapak.
Seekor babi liar melintas di kejauhan. Bapak yang sedang berjalan agak lambat hanya sempat melihat bayangan tubuh kecil putranya berlari memasuki hutan. Mungkin Bapak mengira Will kembali penasaran mengejar hewan liar seperti yang beberapa kali dilakukannya sepanjang perjalanan. Pikiran itu membuatnya tidak segera menyusul. Dan itulah terakhir kali Bapak melihat Will.
Sekali lagi, Bapak menghela napas berat sambil terus mengemudikan mobil. Entah bagaimana dia membayangkan tentang apa yang sebenarnya terjadi selama Will menghilang.
"Apa itu benar-benar Will?" Akhirnya Ibu bertanya.
Tanpa menoleh pada Ibu, Bapak terdiam sejenak. "Menurut polisi yang mengantar katanya itu memang Will," jawab Bapak. "Juga dari poto yang dikirimkan ke Bapak, itu memang Will." Suaranya memelan.
"Will?" Putri yang mendengar percakapan itu terkejut dan langsung bertanya.
"Iya, Put. Will sudah ditemukan. Dia sudah ada di rumah sekarang," jawab Ibu setelah menoleh ke belakang. Wajahnya diusahakan untuk tampak tenang.
"Will?" Kali ini Maya yang penasaran. Seakan jawaban dari pertanyaan Putri belum membuatnya mengerti. Wajahnya mengernyit.
"Iya, Maya. Will, Adik kalian, sudah ditemukan. Dia sudah ada di rumah sekarang."