Tidak ada pesta resepsi yang akan digelar oleh Raka dan Rani dalam waktu dekat setelah prosesi pemberkatan di gereja siang tadi. Akan tetapi malam ini mereka menggelar acara mendadak di sebuah kafe bersama teman-teman komunitas vespa. Hampir seluruh anggota datang baik lama atau baru, termasuk teman SMA RaniāIjal dan Bimo, yang pertama kali memperkenalkan mereka. Keduanya duduk di kursi sebuah depan meja panjang yang muat untuk puluhan orang. Berbagai makanan telah tersaji di atasnya. Obrolan ringan dan canda tawa terdengar di sepanjang acara. Setelah sempat berpidato, sang ketua komunitas memberi selamat pada Rani dan Raka lalu bersulang bersama para anggota lain.
Suara lagu suka cita dari live music band yang mereka sewa secara khusus untuk memeriahkan acara terdengar ceria mengalun. Namun, lagu itu tidak mampu menyembunyikan kekalutan Rani. Sejak acara di mulai, Rani tidak banyak berbicara dan tampak terus melihat ponselnya untuk mengetahui kabar adik bungsunya yang sudah ditemukan dari Ibu.
Raka yang menyadarinya langsung bertanya padanya. "Ran, kalau mau pergi melihat adikmu, kita bisa pergi sekarang."
Rani tersenyum, kemudian menyimpan ponselnya di meja. "Tidak," ucapnya setelah menggeleng pelan. "Kita pergi besok saja. Sayang acara ini sudah digelar. Kalau kita tidak ada, apa jadinya?" tambahnya bijak.
"Mereka bakal mengerti kok." Raka meyakinian.
"Tidak. Kita nikmati saja acara ini sampai selesai," ucap Rani kemudian.
"Iya. Dari tadi kamu yang nggak menikmati acara. Lihat ponsel terus."
"Oh, iya." Rani tersenyum. "Aku lagi nyari akun Facebook seseorang."
"Hah? Siapa?"
Rani tampak ragu. "Bukan siapa-siapa."
Namun, Raka menatap Rani dan mendelik halus. "Siapa?"
Perempuan itu pun menyerah. Kemudian mulai menceritakan keanehan pada seseorang yang menjadi tamu pernikahannya tadi siang. "Kamu tahu ada wanita tua yang datang dari pihak keluarga aku?" Rani bertanya. Raka menggeleng. "Dia duduk di baris dua. Pakaiannya agak mewah gitu."
"Oh. Yang warna biru itu? Pake topi kayak acara kerajaan itu?" Raka bertanya dan Rani langsung mengaangguk. "Lah kamu nggak kenal?"
Rani menggeleng. "Aku bahkan nggak pernah lihat dia sebelumnya," ucap Rani. "Tadi aku tanya sama ibu. Katanya dia saudara Bapaknya Bapak. Adik kakekku."
"Oh, terus?"
"Yang saya tahu kalau tidak salah, adik kakekku dari Bapak itu laki-laki."
Raka terkediap. Lelaki yang kini sudah berambut cepak itu perlahan mengernyit seolah sadar akan sesuatu. Matanya melirik Rani sekali lagi. Berbagai kecurigaan melintas di kepalanya. Namun hanya satu yang hinggap di pikirannya, yaitu tentang mengapa Bapaknya Rani menjadi seperti sekarang ini. "Mungkinkah?" tanyanya.
Seolah tahu apa yang suami barunya pikirkan, Rani menggangguk prlan beberapa kali. "Tapi aku ingin memastikannya. Kalau cuma menebak-nebak saja rasanya jahat mencurigai orang."
"Terus?"
"Aku ingin ngobrol langsung sama dia. Paling tidak di facebook atau ig atau media sosial lain. Makanya tadi aku cari-cari akun dia."
"Ketemu?" Raka penasaran.