Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #26

Hari Terakhir Bersama Babi Peliharaan Bapak


Satu hal yang menjadi perdebatan Ibu dan Bapak adalah di mana Will akan tinggal? Di rumah Bapak di Bandung yang dibelinya dua tahun lalu atau tinggal bersama Ibu di rumah Bekasi seperti sebelum Will hilang.

Setelah perjalanan kasus penculikan dan perdagangan anak yang mengharuskan Will tinggal di Bekasi sampai persidangan selesai, Bapak bersikeras ingin membawa anak laki satu-satunya itu ke Bandung bersamanya. Di hari Will pulang, Bapak sebenarnya sempat akan membawa Will ke rumahnya hari itu juga. Akan tetapi Ibu menolak dan menahan Will di sana, yang mengakibatkan pertengkaran di malam itu antara mereka. Mereka berdebat hungga akhirnya muncul kesepakatan dan syarat dari Ibu.

"Jika Bapak mau menyingkirkan Babi itu, bukan hanya Will yang akan pulang ke sana, tetapi ibu, Putri, dan Maya juga akan tinggal di sana ikut Bapak," ujar Ibu saat itu.

Hal itu membuat Bapak dilema. Dia sudah menganggap babi itu adalah anaknya sendiri bukan hanya sekedar binatang peliharaan, tetapi di sisi lain hal yang membuat babi itu ada di rumah adalah Will, anak laki-laki yang sebenarnya, yang kini sudah pulang.

Sambil mengapit rokok di antara jemarinya, Bapak berdiri di depan gazebo taman memperhatikan babi peliharaannya sedang asyik mengunyah buah-buahan yang sudah dipotong di atas wadah logam. Suaranya berisik dan khas seperti manusia mengorok tapi lebih melengking. Karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di Bandung, Bapak hanya bisa mengunjungi Will pada hari minggu di Bekasi. Karena itu juga Bapak jadi tidak punya waktu bersama babi itu di hari yang biasanya untuk membawanya jalan-jalan ke hutan di belakang kompleks.

Bapak pernah akan mengajukan pada sang manajer untuk kembali pindah ke kantor pusat di Bekasi tapi diurungkannya. Karena Bapak ingin Will dan keluarganya tinggal bersamanya di rumah yang diincarnya dua puluh tahun lalu.

Hari minggu ini Bapak tidak akan pergi ke Bekasi menemui Will. Meskipun rindu, tetapi Bapak harus menahannya karena ada yang harus dikerjakannya di rumah.

Dia sedang menunggu para tukang bangunan yang akan membuat satu kamar di loteng, persis di sisi kiri kamar anak-anak perempuannya untuk dihuni Will. Sebenarnya sudah seminggu Bapak memperkerjakan mereka dan sesuai akan selesai beberapa hari lagi. Bapak tidak banyak memberikan instruksi, karena mereka lebih tahu. Hanya saja dia menginhinkan jendela yang agak besar dan menghadap gunung yang memang terlihat.

Saat para tukang bangunan itu melakukan pekerjaannya, Bapak memilih untuk membawa Will pergi dan meninggalkan mereka tanpa pantauan. Sebab Bapak ingin mengajak Will pergi ke hutan belakang kompleks itu untuk yang terakhir kalinya. Karena minggu depan, Bapak berencana akan mengembalikan babi peliharaannya ke penangkaran hewan liar di mana Bapak pernah mengambil Will ketika hilang disingkirkan Ibu.

"Babi ngepet!"

Seperti biasanya bocah-bocah langsung berteriak begitu melihat babi itu berjalan di depan Bapak setelah tiba di kampung belakang kompleks. Bapak hanya tersenyum. Mungkin bocah itu akan merindukan Will yang sudah diteriakinya selama hampir dua tahun ini. Oleh karena itu juga, Bapak sengaja berhenti di depan mereka. Respon bocah-bocah itu beragam. Ada yang mengernyit jijik, ada yang takut sampai hampir berlari, tapi ada juga yang tertawa berlaga sok berani dan mendekati. Hingga akhirnya mereka malah bergumul mengelilingi babi itu. Bapak tahu sebenarnya mereka tertarik pada babi peliharaannya. Stigmalah yang membuat mereka berteriak menghina bakan melempari Will dengan batu.

Setelah membeli rokok dan air mineral, Bapak harus menuntaskan acara tontonan itu dan memanggil Wiil untuk mengikutinya.

Tiba di area landai setelah setengah jam mendaki, Babi itu berlari terburu-buru ke lokasi tempat biasa dirinya berkubang. Dia melompat-lompat antusias. Sesekali berbalik seakan memastikan Bapak tetap mengikutinya dan langsung melompat setibamua di sana. Bapak lalu duduk di bawah pohon cemara di atas rerumputan menghadap kubangan yang sudah digauli babi peliharaannya. Dia tersenyum. Namun sesaat kemudian senyumnya pudar mengingat itu adalah hari terakhir dia akan menyaksikan Will berkubang.

Saat Bapak ingin menikmati hari terakhirnya bersama Will dengan bersantai di hutan, tiba-tiba suara ponsel terdengar berdenting. Rupanya Ibu mengirimkan pesan di aplikasi WhatsApp.

"Pak, jangan lupa Bapak ada konsultasi besok."

Bapak membacanya, tetapi seperti biasa dia enggan membalas. Meskipun begitu sebenarnya Bapak diam-diam menurut dan datang ke psikiater untuk konsultasi sebulan sekali. Bulan ini adalah keenam kalinya jika Bapak datang besok.

Bapak teringat di salah satu sesi konsultasi itu dokter pernah bertanya sesuatu yang tidak bisa Bapak jawab. "Apa yang sebenarnya Bapak inginkan di dunia ini selain punya anak laki-laki?"

Sambil menghisap rokok sambil memikirkan pertanyaan itu. Dia menatap babi peliharaannya berkubang lalu tersenyum. Lalu ingatannya kembali ke ruang konsultasi itu di mana di sesi lain dia sempat menjawab sekilas yang waktu itu membuatnya malu pada dokter tersebut.

"Aku ingin berkubang seperti babi."

"Hah? Apa?"

Lihat selengkapnya