Will membuka jendela kamar karena ingin melihat pemandangan gunung yang terlihat dari sana. Gunung yang merupakan salah satu dari gugusan gunung Bandung itu berdiri jelas berwarna hijau, besar, dan terasadekat karena memang letaknya tidak jauh dari rumah barunya. Will masih takjub seperti pertama kali melihatnya dua minggu lalu ketika Bapak dengan semangat mengajak anak laki-laki bungsunya untuk pergi menuju kamar yang baru dibangun. Awalnya Bapak sempat mengira dengan memperlihatkan pemandangan itu akan mengingatkan Will pada peristiwa penculikan dua tahun lalu, tetapi ternyata tangapan Will justru membuat Bapak senang dan lega.
"Kapan-kapan kita ke sana, ya, Pak." Bapak mengangguk lalu merangkulnya.
Dan tibalah hati itu. Kapan-kapan yang dipinta Will tiba di hari minggu. Hari yang memang dahulu biasanya Bapak gunakan untuk mengajak babi peliharaannya kini mungkin akan menjadi kegiatan rutin baru mengajak Will ke sana.
Pagi itu, dengan baju jaket biru-hitan yang senada dengan apa yang dipakai Bapak, Will sudah siap berangkat mendaki. Hari-hari yang sangat Bapak tunggu. Ketika Bapak berjongkok untuk merapihkan kerah baju Will yang terlihat kurang rapih, Maya tampak mengintip di balik pintu dapur. Kemudian perlahan dia keluar dengan wajah sendu.
"Pak, mau ke gunung lagi?" tanya Maya. Bapak mengangguk. "Maya ikut dong," bujuknya sambil memelas.
Bapak tampak kikuk untuk menjawab. Sepertinya dia ingin menolak. "Maya nanti saja, ya, kapan-kapan. Hari ini Bapak ingin mendaki gunung bersama Will."
Mendengar itu Maya terdiam. Matanya menatap Bapak yang tersenyum canggung padanya. Gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penolakan itu. Alisnya bertaut kuat, bibirnya rapat dan datar. Kemudian Bapak menuntun Will dan melangkah menuju pintu belakang rumah meninggalkan Maya yang perlahan membendung air mata.
Gadis itu kemudian melangkah masuk ke dalam rumah membawa sakit di dada karena penolakan. Ibu yang menyapanya di dapur tidak ia hiraukan dan terus melangkah, menapaki tangga, mengabaikan Ibu yang heran dengan tingkah lakunya.
Setibanya di kamar, dia langsung melempar tubuhnya ke kasur, menutupi seluruh tubuhnya dan menangis tanpa suara. Putri, yang sedang mendengarkan musik menggunakan headset hanya bisa melihat Maya sebentar tanpa mencurigai sedikitpun. Karena kakaknya itu sudah sering melihat Maya seperti itu: datang masuk ke kamar dengan wajah kesal dan berbaring dengan menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun, kali ini menjadi tidak biasa ketika Putri menunggalkan Maya sendiri di kamar untuk pergi keluar rumah karena ada pertemuan komunitas tari di Bandung kota, dan saat kembali sore harinya, dia melihat adiknya itu masih ada di sana dengan posisi yang hampir sama.
"Maya, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak," jawab Maya di balik selimut. Suaranya serak yang membuat Putri lanjut bertanya.