Terhitung Bapak baru menjalani satu jam pertama kerja saja ketika mendapatkan telepon dari Ibu yang mengabarkan Will sedang berada di rumah sakit. Begitu dia bertanya kenapa. Ibu memilih tidak menjawabnya. Tanpa pikir panjang, Bapak segera bergegas pergi ke lokasi rumah sakit yang diberitahu Ibu. Rekan-rekan kerjanya tampak heran melihat Bapak terburu-buru keluar dari ruang kantor menuju parkiran motornya.
Bapak masih melakukan panggilan telepon dengan menyelipkan ponsel itu di helm sebelah kiri, di antara telinga dan mulut sambil berkendara di jalanan kota Bandung. Dia masih penasaran dan berusaha mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Ibu tetap bungkam dan membuat Bapak kesal.
Setelah tiba di rumah sakit, Bapak langsung menuju bangsal tempat Will dirawat.
"Mana Will?" tanya Bapak sesaat setelah menemukan Ibu di depan pintu ruang UGD.
"Sedang ditangani dokter. Kita tidak boleh masuk dulu." Ibu menjawab.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Will kenapa?" tanya Bapak tegas.
Barulah setelah itu, Ibu menceritakan semuanya. Ibu sengaja menunggu waktu yang tepat dan ingin melihat kondisi Bapak dulu sebelum bercerita ala yang terjadainpada anak kesayangannya itu. Ibu juga menjelaskan apa yang terjadi pada Maya sampai anak gadisnya itu merajuk seharian kemarin. Bapak termangu mendengar penjelasan Ibu. Dia tidak menyangka penolakannya kemarin pada Maya yang ingin ikut mendaki gunung di belakang kompleks akan berakibat fatal.
Bapak terduduk di samping pintu UGD sambil menunduk. Tangannya menyembunyikan wajah yang sedang lesu. Di balik telapak tangan itu, matanya terpejam, dahinya mengernyit kuat. Dia menyadari semua itu adalah kesalahannya. Jika saja kemarin Bapak membiarkan Maya ikut, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Akan tetapi, di balik perasaan gundah itu, Bapak masih memikirkan bagaimana bisa Maya yang dia kira adalah seorang anak pendiam, bisa melakuakan perbuatan sesadis itu.
Di sampingnya, Ibu juga termenung. Saat melihat Bapak murung, Ibu meletakkan tangannya di punggung Bapak dan mengusap-usapnya.
"Apa Bapak begitu mengabaikan mereka, Bu?
Ingin sekali Ibu menjawab iya, tapi itu tidak mungkin dia katakan. Ibu berpikir untuk mengeluarkan kata-kata bijak. Namun dirinya tidak menemukan satu kalimat pun untuk disampaikan. Maka dia memilih diam. Wajahnya tak kalah suram dari Bapak.
Di pagi menjelang siang. Akhirnya sang dokter keluar bersama para asistennya.
Will sudah melalui masa-masa kritis. Pisau di dadanya sudah aman terlepas. Dokter memuji Ibu karena tidak langsung mencabut benda tajam itu, karena kalau Ibu melakukannya, Will akan mengalami pendarahan hebat. Selain itu, keberuntungan masih memihak Will. Karena Walaupun pisau itu tertancap setengahnya di dada kirinya, posisinya ternyata miring ke kanan hingga tidak menembus jantung dan tidak pula menembus paru-paru. Seperti apa yang dilakukan pada Putri dahulu, pada saat dokter menyatakan Will harus dirawat inap, Bapak langsung menempatkan anak laki-lakinya itu di ruang VIP.
Malam pun tiba. Will sudah sadar sepenuhnya setelah terbaring tidak sadarkan diri akibat efek obat bius yang digunaian saat operasi penyelamatan pagi tadi. Hanya infusan yang masih melekat di tangan kanannya. Ibu sendiri sudah memberitahu Rani tentang kejadian itu dan menyuruhnya menjemput Putri di sekolah dan menemani Maya di rumah. Ibu bersikeras ingin menjaga Will hingga dinyatakan boleh pulang dan menyuruh Bapak untuk balik saja ke rumah karena besok Bapak harus kerja. Tapi Bapak juga bersikeras menolak dan ingin menemani Will.
Pintu kamar terbuka. Ibu masuk dengan membawa dua bungkusan nasi goreng dan satu wadah mangkuk berisis bubur untuk Will.
"Di makan dulu, Pak." Ibu meletakkan dua bungkusan itu di meja di hadapan Bapak dan membawa bubur ke ranjang Will untuk menyuapinya.
Saat melihat Ibu sedang menyuapi, Bapak tersadar kalau ruangan itu adalah ruangan yang sama dengan yang digunakan untuk merawat Putri dulu. Seakan dejavu. Pikiran Bapak mulai membandingkan apa yang dirinya lakukan saat Putri dirawat dan saat ini Will dirawat.