"Jadi selama ini Bapak nggak bisa nyetir mobil?" tanya Putri.
Ibu menatap spion depan untuk melihat anak-anak yang duduk di kursi belakang. Sementara Bapak duduk di samping Ibu, yang sedang menyetir dan bercerita tentangnya, hanya bisa tersenyum malu.
Ibu pun mengangguk untuk menjawabnya. "Iya, Put. Nggak ada yang ngajarin Bapak waktu itu."
"Kan ada les nyetir?" celetuk Putri.
"Bapak nggak mau. Malu katanya," ujar Ibu tersenyum geli menghid Bapak. Putri, Maya, dan Will pun terkekeh. "Ibu ajarin juga nggak mau.l Bapak mah."
"Iya, iya, iya, nanti Bapak ikut kursus nyetir." Akhirnya Bapak yang sedari tadi diam saja turut menangapi obrolan tentang dirinya.
Itu hanya salah satu dari fakta yang baru anak-anak tahu tentang Bapak dan masa lalunya. Semenjak kejadian setahun lalu, Bapak jadi lebih banyak mengobrol dengan Maya, Putri, bahkan dengan Rani yang sudah tinggal dengan suaminya melalui telepon atau video call sekalian untuk melihat cucu laki-laki pertamanya. Itu adalah saran dari dokter psikolog yang menyuruh Bapak mau jujur tentang dirinya pada anak-anak terutama anak-anak perempuan. Memang tidak mudah bagi Bapak untuk memulai. Ibu selalu mendampingi Bapak yang masih canggung bertukar cerita keseharian dengan mereka. Tetapi lambat laun, Bapak mulai bisa menunjukkan perasaannya pada anak-anak perempuannya.
Hari ini mereka sedang menuju salah satu mall di Jakarta. Selain jalan-jalan, mereka akan memghadiri panggung yang akan menampilkan lomba tari di mana Putri dan teman-temannya menjadi peserta.
Tiba di Parkiran Mall, mereka langsung mencari Rani yang sudah lebih sampai di sana. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya mereka menemukannya tak jauh dari lift. Rani dan Raka, yang sedang memangku anak kecil, menyapa dari jauh.
"Kalian naik motor?"
Rani mengangguk. "Tuh di sana," tunjuknya ke arah parkiran motor tak jauh dari sana.
Bapak terperangah melihat satu motor vespa yang dia kenal. "Itu, kan?"ucapnya. Bapak lalu berjalan ke sana untuk menghampiri motor itu, dan benar saja, itu adalah vespa sprint hitam dengan stripline loreng yang dahulu dimiliki Bapak pemberian Bapaknya. "Dari mana kamu dapat motor itu, Ran?" tanyanya kemudian setelah kembali ke rombongan keluarganya.