Dua hari setelah kepulangan Putri ke rumah, Bapak masih gelisah pada Will yang tidak kunjung pulang. Maka dari itu dia memutuskan untuk pergi ke hutan belakang kompleks untuk mencarinya. Sementara Bapak bersiap dengan segala perlengkapan yang akan dibawanya di dalam rumah, Ibu dan dua anak perempuannya sedang menikmati cerahnya minggu pagi sambil membicarakan tentang mereka yang akan kembali ke sekolah esok hari.
“Kamu yakin mau berangkat saja besok, Put?” tanya Ibu.
Putri mengangguk sambil menonton video Youtube di ponselnya. Punggungnya menyender ke pagar kayu gazebo yang dilapisi bantal.
“Lukamu memang sudah sembuh, tapi belum kering, Put. Kalau masih merasa sakit. Jangan berangkat dulu ya. Biar ibu besok yang ke sekolah kasih tahu mereka.”
“Nggak apa-apa, Bu. Paling besok masa pengenalan sekolah saja.”
Ibu mengangkat sepotong roti bakar dari piring dengan garpu dan menyodorkannya ke mulut Putri. “Tapi Ibu antar ke sekolah biar Ibu bilang kamu nggak usah ikut acara itu. Duduk saja sama Ibu nonton mereka.” Sambil mengunyah, Putri mengangguk.
Sebenarnya Putri belum terdaftar sebagai siswa SMA. SMA yang sama dengan Rani bersekolah sebelumnya. Sebab Ibu tidak ada waktu untuk mendaftarkan Putri karena harus berada di rumah sakit. Ibu akan melakukannya besok bersama dengan hari pertama masuk sekolah itu. Dirinya sudah mengenal guru-guru di sana dan meminta izin atas keterlambatan pendaftaran di pesan Whatsapp. Saat Ibu bilang ada urusan yang harus dikerjakan di rumah ketika Bapak menjaga Putri, Bapak pikir itu adalah tentang pendaftaran itu. Makanya dia tidak bertanya lebih lanjut.
“Sudah setahun kita di sini, ya, Put,” ucap Ibu.
“Lebih.” Putri mengoreksi. Dia ingat sebab waktu itu dirinya masuk ke SMP di pertengahan kelas 2.
Ibu pun tersenyum. “Menurut kamu, lebih suka di sini atau di Bekasi?” tanya Ibu.
“Sama saja.” Putri menjawab.
Mendengar jawaban Putri, senyum Ibu memudar. Dia tahu persis apa yang dimaksud sama saja oleh Putri. Anak perempuan keduanya itu tidak terlalu punya banyak teman baik di Bandung ataupun Bekasi. Adapun dia bergabung ke komunitas tari sebab tuntutan dari studio tari tempatnya berlatih yang mengharuskan mereka membuat kelompok untuk sebuah pentas. Lagi pula, Putri harus selalu diantar Rani atau Ibu saat pergi berlatih.
Sedangkan di lingkungan kompleks, tidak ada anak-anak sebaya Putri atau Maya yang berteman dengan mereka. Kecuali Rani yang memang sudah dibebaskan untuk keluar rumah tanpa izin Ibu, dua anak perempuan lainnya belum diperbolehkan. Bukan karena mereka dikekang, melainkan karena Ibu sendiri ingin menyembunyikan keberadaan babi peliharaan Bapak dari tetangganya. Walaupun beberapa dari mereka mungkin sudah mengetahuinya sebab Bapak hampir setiap minggu membawa Will keluar rumah untuk jalan-jalan.
Hal itu membuat keluarganya dinilai sebagai tetangga yang tertutup dari lingkungan. Ibu bukannya tidak menyadari itu. Makanya jika tidak ada orang di rumah, sesekali dirinya keluar menemui tetangga dan mengobrol ringan. Selama lebih dari setahun ini, dirinya hanya mengenal keluarga depan rumah dan dua tiga nama tetangganya yang lain. Mungkin setelah tidak adanya binatang itu, Ibu akan mulai lebih terbuka pada lingkungan. Terlebih karena Putri dan Maya butuh teman.
“Kalau menurut kamu gimana?” Ibu mengalihkan pertanyaan itu pada Maya.