Baby Orca

Dianikramer
Chapter #3

Tiga

Sofi mendongakkan kepalanya ke arah langit sambil menggenggam tali tas Baby Orca, seolah ingin memastikan tas itu semakin erat menempel di punggungnya. Ia berjalan setengah melompat menyusuri jembatan, ditemani barisan pohon yang seakan bersiap mengawalnya.

Karena terus menatap ke atas, Sofi tidak melihat langkahnya sendiri. Ia terjatuh.

Ia segera bangkit. Setelah berdiri, ia mengibaskan tanah yang menempel di kedua lututnya, lalu melanjutkan perjalanan.

“Hei, anak aneh!” teriak seorang anak yang sedang dibonceng ayahnya dengan motor bebek. Suara knalpot motor itu tak kalah mengganggu telinga.

Mulut Sofi merengut. Namun, ia kembali berjalan sambil mendongakkan kepala.

“Bebek, unta, labu, sapu ibu.”

Terdengar suara anak-anak yang tertawa riuh. Sekitar lima anak menertawakan tingkah Sofi. Ia melotot ke arah mereka, lalu memonyongkan bibir. Anak-anak itu pun berlarian sambil menahan tawa.


Love, cangkul milik Bapak.”


Tak lama kemudian, Sofi berpapasan dengan sekelompok ibu-ibu yang mengenakan pakaian bertumpuk. Ada yang mengenakan kemeja panjang, kemudian melapisinya lagi dengan kaus berlengan panjang. Gaya berpakaian mereka mampu membuat siapa pun yang melihatnya ikut merasa gerah.


“Cangkul? Mana cangkul?” tanya seorang perempuan berkulit cokelat yang aroma tubuhnya mengingatkan pada tanah basah.


“Tuh,” jawab Sofi sambil menunjuk ke langit.


“Mana?”


Sedari tadi Sofi memang sedang memperhatikan awan yang bergerak ke arah utara. Ia mencocokkan setiap bentuk awan dengan benda-benda yang pernah dilihatnya.


“Lihat itu! Bagian yang melintang itu kayu untuk pegangan cangkul. Sedangkan yang bentuknya agak oval itu cangkulnya,” jelas Sofi.


“Tapi itu lebih mirip serok sampah, Nak. Hehehe,” ujar ibu-ibu itu sambil terkekeh.

Ia mengusap kepala Sofi, lalu berlalu dengan langkah yang lebih cepat.

Sesampainya di rumah, ibunya sudah menyiapkan air perasan jeruk. Namun, rasanya lebih mirip air gula. Rasa jeruknya hampir tidak terasa. Ibunya berusaha menghemat sedemikian rupa: satu buah jeruk harus menghasilkan tiga gelas minuman.

Setelah menghabiskan air gula rasa jeruk itu dalam sekali teguk, Sofi mendekati Aisyah yang sedang memilah kotoran dan bulir padi yang menyusup di antara beras kualitas paling rendah yang dibeli ibu mereka.

Sofi ikut membantu Aisyah.

“Wu. Wu.”

“Apa, Kak?”

Aisyah membuka kancing yang menempel di bagian paling atas seragam Sofi. Sofi langsung bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian.

Tak lama kemudian, Sofi keluar rumah dengan niat mencari teman bermain. Dengan kaus bergambar Snoopy yang sablonnya sudah nyaris hancur, ia melangkah keluar.

Lihat selengkapnya