Baby Orca

Dianikramer
Chapter #6

Enam

Lalu, sambil mengusap kumisnya, kakek tua itu tanpa izin meraih tangan Edi, lalu meletakkan tiga lembar daun di atas telapak tangannya. Laki-laki tua itu tersenyum penuh keramahan. Edi dan Sofi menatap daun-daun tersebut. Tidak ada yang aneh. Daun itu hanyalah daun biasa. Tidak ada sesuatu yang tampak istimewa.

Namun, ketika pandangan mereka kembali mengarah kepada kakek tua itu, sosok tersebut telah menghilang.

Semua pohon di sana bergerak seperti metronom. Pandangan mereka memindai setiap sudut yang masih mampu dijangkau mata. Namun, kakek itu tidak ada.

“Itu dia!” teriak Sofi sambil menunjuk ke arah atas bukit.

Keduanya terperangah. Bagaimana mungkin kakek itu tiba-tiba sudah berada di atas bukit dalam waktu sepersekian detik?

Tiba-tiba tanah di bawah kaki Edi ambles ke dalam perut bumi. Tubuhnya terhempas ke sebuah lubang yang seolah memiliki kedalaman hingga puluhan kilometer. Ia terjun bebas sebelum akhirnya ambruk.

Edi terduduk lemas di atas permukaan tanah. Semuanya gelap. Hanya ada cahaya putih yang sangat kecil di atas kepalanya. Cahaya itu tampak samar.

Ia menunduk, hampir menangis. Tiba-tiba, sebuah baju putih yang persis seperti pakaian kakek tua tadi jatuh dan mendarat tepat di atas kepalanya.

Edi berteriak karena kesulitan bernapas.

Sementara itu, Sofi menghampirinya dan mengambil ranting pohon yang jatuh menimpa tubuh Edi.

“Edi, bangun. Aku harus pulang. Sebentar lagi aku harus pergi mengaji.”

Edi mengangguk. Tatapannya kosong, seperti orang yang baru saja dihipnotis. Ternyata kejadian itu hanyalah mimpi di siang bolong. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

🪻🌺🌻

Keesokan harinya, Edi sudah nongkrong di depan rumah Sofi.

“Edi, apa kau akan mengajakku berburu layangan putus lagi?”

“Tidak, Opi. Kita akan mengganti bisnis ini dengan bisnis yang lain.”

“Apa itu?”

“Kau ikut saja. Ini kejutan. Aku tidak boleh memberitahukannya kepadamu sekarang.”

Ternyata, sejak tujuh menit yang lalu, ibu Sofi sudah menguping percakapan mereka.

Sofi masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti di depan ibunya.

“Sudah, sana pergi main. Biar Ibu yang mengerjakan ini,” tawar ibunya yang sedang memangku sewadah beras subsidi yang akan dipilah-pilah sebelum dicuci lalu dimasak.

Sofi mencium pipi kanan, pipi kiri, dan dahi ibunya, lalu pergi bersama Edi.

Mereka berdua berjalan menuju sebuah rumah kosong yang sudah tujuh tahun tidak dihuni. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah tersebut.

“Edi, aku tidak mau pergi ke rumah itu.”

“Kenapa?”

“Di sana ada hantu.”

“Hantu?”

“Iya.”

“Hantu kribo.”

“Lantas kamu takut?”

“Tentu, Edi.”

“Kenapa kau harus takut? Kalian kan sama-sama kribo.”

Edi menjawab sambil melengos meninggalkan Sofi.

Dengan sangat terpaksa, Sofi mengikuti Edi.

Lihat selengkapnya