Baby Orca

Dianikramer
Chapter #7

Tujuh

“Oh, tidak apa-apa. Ibu akan bayar dua kali lipat dari harga biasa.”

“Baiklah.”

“Bolehkah Ibu ikut dengan kalian? Ibu ingin melihat bagaimana kalian membuat es cincau yang sudah sangat terkenal ini.”

Sofi dan Edi bersitatap. Akhirnya, Ibu Nadhira mendapatkan kesempatan untuk melihat pembuatan es cincau yang termasyhur di kalangan anak-anak kampung ini.

Sofi meremas-remas daun cincau. Sementara itu, Edi meracik air gula yang dicampur pewarna makanan yang tidak food grade. Pewarna makanan itu bahkan dijual dengan harga sangat murah, hanya dua ratus lima puluh rupiah. Edi menambahkan pewarna makanan tanpa takaran yang tepat.

Sesuai janji, Ibu Nadhira memborong es cincau tersebut dengan harga dua kali lipat. Setelah itu, Ibu Nadhira menjadi orang terakhir yang membeli es cincau. Sekaligus, hari itu menjadi hari terakhir mereka berjualan.

🪻🌺🌻

Hari ini hujan turun begitu deras. Suara petir melolong, melengkapi langit yang seolah mengesankan bahwa malam ini akan terasa suram.

Ayah tidak jadi pergi ke surau karena hujan terlalu deras. Sementara itu, payung butut berwarna kuning miliknya selalu menyerang balik ketika dibuka. Payung itu tak mampu menemaninya menghalau derasnya hujan malam ini.

Listrik padam. Lilin habis.

Aisyah dan Sofi berpelukan di samping ibunya yang kondisi tubuhnya sedang kurang sehat. Ayah mengambil piring kecil, lalu menuangkan minyak goreng ke dalamnya. Ia berjalan sambil meraba-raba sekeliling. Ukuran rumah dan jumlah benda yang ada di dalamnya membuat ia dengan mudahnya menghafal setiap sudut. Meski gelap, ia masih dapat menjangkau apa pun yang ada di rumah itu.

Ia melinting sebulat kapas, lalu membiarkannya berenang di dalam genangan minyak. Ujung kapas dibiarkannya tetap berada di atas permukaan minyak. Setelah itu, ia membakarnya.

Kapas yang terendam minyak menjadi pengganti lilin yang cukup bisa diandalkan.

Mereka terlelap dalam remang malam yang melenakan, ditemani nyanyian hujan yang meninabobokan.


Pukul 22.00.

Ibunya merintih kesakitan dalam keadaan hamil tua. Aisyah dan Sofi menangis tersedu-sedu. Ayah masih tenang seperti air di perairan tawar. Seharusnya ayahnya itu tidak menjadi buruh tani atau kuli bangunan. Ia lebih layak menjadi aktor.

“Sudah, kalian tenang saja.”

Hujan dan petir semakin menambah dramatis kecemasan yang memenuhi malam itu. Ibu meringis sambil terus-menerus mengusap perutnya.

Aisyah dan Ayah membopong Ibu menuju daun pintu.

“Bapaaaak!”

Sofi terjatuh. Ia tertinggal di belakang.

Aisyah tetap menahan ibunya, sementara Ayah menghampiri Sofi yang tersandung. Tangisan Sofi terhenti. Sementara itu, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh ibunya. Pipinya menguning. Setiap pinggiran bibirnya memutih.

Mereka semua kebingungan.

Lalu Aisyah berinisiatif pergi ke rumah Nadhira.

“Um, Um.”

Tok, tok, tok.

Hanya ayah Nadhira yang masih terjaga. Ia langsung keluar.

“Ong, ong, Bu. Kit.”

Kali ini, memahami apa yang dikatakan Aisyah sepertinya akan memakan waktu lama. Tanpa payung, mereka bergegas menghampiri rumah Aisyah. Ayah Nadhira membantu membopong Ibu. Mereka harus berjalan ke arah depan gang menuju sebuah rumah toko miliknya yang digunakan sebagai garasi.

Mereka basah kuyup.

Ibu Sofi sudah lemas dan terus meraung kesakitan. Ia merasakan kontraksi yang hebat.

Akhirnya, mereka sampai di rumah sakit. Ibu langsung ditangani dengan baik di IGD.

Sebenarnya, Ayah sudah merencanakan kelahiran anak ketiganya di tangan seorang dukun beranak. Namun, perasaan kalut yang merayap kala itu membuat Ayah tidak mampu mengambil keputusan apa pun. Ia hanya mengikuti arah laju kendaraan milik ayah Nadhira.

Aisyah termangu di salah satu lorong rumah sakit. Sementara itu, Sofiyah tertidur di pangkuannya.

Lima belas menit kemudian, bayi itu telah lahir.

Meski bayinya telah lahir, Ibu sama sekali tak berani menatapnya. Baru setelah mendengar pernyataan dokter bahwa anak tersebut memiliki jari yang lengkap dan penglihatan yang baik, ia berani menatap bayi itu.

Ia tiba-tiba merasa takut karena pengalaman saat melahirkan Aisyah. Kala itu, Aisyah terjatuh saat digendong oleh dukun beranak. Setelah jatuh dari pangkuan dukun beranak, Aisyah berhenti menangis untuk selamanya.

Ayah menggendong bayi tersebut dengan tangan gemetar dan mata yang lembap, lalu mengazankannya.

Lalu, buat apa pergi mengunjungi pentas sulap hanya untuk menonton pertunjukan sulap jika apa yang sedang ada di pangkuannya adalah keajaiban itu sendiri?

Semua bahagia atas kehadiran si putri bungsu.

Subuh hari, Aisyah salat di musala. Ia tidak membawa mukena. Ia berdiri di belakang seorang wanita yang sedang salat dengan mukena berwarna hijau taupe yang terdapat bordir nama Rumah Sakit Ananda Kasih Bunda.

Wanita itu bersujud, lalu bangkit untuk melakukan tahiyat terakhir. Ia memutar kepalanya empat puluh derajat ke kanan, kemudian menyusul ke kiri.

Aisyah tersenyum.

Wanita itu membuka atasan mukena sambil duduk setelah memanjatkan doa yang singkat, padat, dan jelas. Ia berdiri, lalu membuka bagian bawah mukena. Terdengar gemerincing perhiasan yang menempel pada tangannya.

Wanita itu diam sebentar sambil menggeser tasnya.

Aisyah baru akan menyentuh pundaknya ketika tiba-tiba ibu-ibu yang wajahnya masih basah itu berkata, “Ini mukena di sini, ya?”

Ia langsung menyerobot mukena tersebut.

Wajah Aisyah pucat pasi.

Di tempat ibadah yang sempit ini, berjubel orang yang masuk. Aisyah hanya diam seperti orang yang kehilangan arah. Lalu, arah tatapannya terhenti pada sebuah mukena yang menggantung.


Layaknya seseorang yang baru saja menemukan harta karun, ia tersenyum penuh kemenangan.


Akhirnya, ia salat sembari menahan bau menyengat yang menghunus hidungnya. Mukena tersebut menyebarkan aroma keringat yang kecut.


Sementara Ayah pulang untuk mengambil uang, Aisyah dan Sofi menjaga Ibu dan bayi.


Lihat selengkapnya