Keesokan harinya, Fatimah mengusap-usap Utami yang terus-menerus menangis. Kekhawatiran mulai merayap. Utami adalah anak yang baik. Ia jarang menangis dan tidak pernah protes ketika ibunya pergi. Kali ini ada yang berbeda.
Ayah Utami menghubungi dukun beranak. Hanya dengan menyentuh beberapa bagian tubuh Utami, dukun itu sudah dapat mendiagnosis penyakitnya. Dengan tenang, ia memberikan serbuk anak sumang dan air godokan.
Namun, setelah kedatangan dukun beranak itu, keadaan Utami justru semakin memburuk. Kulitnya berubah menjadi kuning pucat.
Siang itu, sepulang sekolah, Sofi dibuat kaget ketika mendapati ibunya sedang mengaji. Baru sampai di depan pintu, Sofi langsung rubuh. Tanpa suara, hatinya seakan patah berkeping-keping. Ia terdiam.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, sebuah suara berkali-kali terdengar.
“Bukankah kau tidak ingin memiliki adik? Mengapa kau bersedih? Bukankah jika tidak ada adik, makananmu akan utuh? Tanpa adik, kau tidak akan lelah menggendong dan diminta bermain bersamanya?”
Suara itu tidak berhenti. Terus berbicara tanpa jeda. Suara yang begitu tidak enak didengar, seolah membuat susunan sel otak Sofi memburai berantakan.
Sofi berlari sambil mengusap air mata dan ingusnya.
“Adik!”
Ia menangis tersedu-sedu. Tangisnya semakin kencang. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Utami yang sedang telentang itu. Sungguh dramatis.
Lalu ibunya menepuk punggung Sofi. Tepukannya lumayan keras.
Mata Utami tiba-tiba terbuka lebar. Ia menatap Sofi dengan penuh keheranan, lalu menggaruk lehernya.
“Kamu itu apa-apaan? Adikmu baru saja bisa tidur. Kau jaga adikmu dulu. Ibu mau mengaji.”
Ibunya berlalu ke kamar dan melanjutkan mengaji.
🌻🌺🪻
Sore hari, Uncle Sam yang sudah berjanji akan mengantar Ami ke rumah sakit telah berada di depan rumah. Ia baru saja selesai berkeliling menjajakan dagangannya.
Sebelum ibu Utami dan Utami naik moko—motor toko miliknya—ia terlebih dahulu memindahkan barang dagangannya dengan bantuan ibu Utami.
“Sokri, kamu jagain dagangan Uncle, ya!”
Mulut Sofi membulat.
“Sofi, Uncle, bukan Sokri!” protes Sofi.
“Sokri, Sofi kribo!” ujarnya terkekeh.
Motor Uncle Sam menjauh, mengecil, lalu menghilang dari pandangan. Sofi menjaga dagangan itu sambil mengerjakan PR.
Satu jam kemudian, Uncle Sam dan ibu Sofi pulang.
“Sofi, ambillah tiga barang yang menggantung di sini.”
“Serius, Uncle?” ucap Sofi memastikan.
“Iya. Ayo cepat ambil, sebab Uncle harus segera pulang.”
Sofi mengambil satu set pensil, pulpen dan penghapus dalam plastik, sebuah sisir, serta satu ikat rambut.
“Sudah?”
“Terima kasih, Uncle.”
Uncle Sam melilitkan handuk berwarna oranye menyala di lehernya. Saat itu ia mengenakan baju berwarna kuning dengan motif daun kelapa full print. Handuk jingga tersebut semakin membuat penampilannya tampak rumit. Ia lalu mengenakan sarung tangan berwarna merah marun.
Sebelum menstarter motornya, ia mencabut sebuah mainan masak-masakan yang menggantung di antara rimbunnya barang dagangan. Tak hanya itu, ia juga mencabut tiga buah cotton bud.