Mereka menyusuri setiap gang sambil berteriak, “Oncom panas, comeeeeeet!” Terkadang ada warga yang terlihat penasaran dengan mereka. Contohnya seorang pemuda yang keluar rumah bukan untuk membeli, melainkan hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap dua anak yang berteriak melengking itu. Belum lagi anak-anak kecil yang menirukan gaya teriakan mereka saat berjualan dengan nada yang terdengar meledek.
“Oncom panas, comeeeeet.”
Kata-kata itu bahkan seperti lonceng penanda sore. Banyak ibu-ibu yang gembira menyambut kedatangan mereka berdua. Siraman bumbu kacang terbaik di kelasnya semakin menambah cita rasa gorengan itu.
Sore itu, seperti biasa, Sofi dan Utami menjajakan dagangan mereka. Dengan suka cita, keduanya berkeliling menjajakan gorengan, meski harus kehilangan waktu bermain pada sore hari di bulan Ramadan yang luar biasa menyenangkan.
“Combro panas, comeeeeeettt!”
Tiba-tiba, sebuah telur ayam meluncur dan mendarat tepat di kepala Sofi.
“Plek!”
Sebagian telur itu mengenai wajah dan pundak Utami. Mereka terkejut. Meski begitu, tidak ada sedikit pun rasa marah yang mampir. Mereka justru merasa tidak enak kepada orang yang melemparnya. Mereka diam karena merasa tahu diri; lengkingan suara mereka mungkin memang terkadang membuat telinga orang lain tidak nyaman.
Mereka pulang dan merelakan beberapa gorengan yang masih selamat untuk dikembalikan kepada Ibu Nyai. Sementara gorengan yang terkena cipratan telur dibawa pulang. Mereka masih kaget dengan kejadian tadi.
Mereka duduk diam di luar rumah. Tanpa suara, Sofi mengepang rambut Utami. Mereka hanya duduk di teras tanpa berkata-kata. Begitulah cara mereka membunuh waktu menjelang berbuka puasa.
Sementara itu, ibunya menggoreng kembali gorengan tersebut agar bagian yang terkena telur mentah ikut matang. Setelah suara azan berkumandang dengan begitu merdunya, mereka menyantap gorengan terlebih dahulu, lalu menunaikan salat Magrib.
Ayah mereka baru pulang. Ia terlambat berbuka puasa. Setelah itu, ia membersihkan sisa cat yang menempel di tubuhnya. Seharian ini ia menjadi buruh lepas, mengecat rumah orang di kampung sebelah.
Ia memperhatikan kedua putrinya yang terlihat murung. Ayahnya memberi uang dua ribu rupiah kepada mereka berdua. Lalu, mereka yang sudah menggenggam mukena itu pergi keluar dengan raut wajah layu.
Ayahnya mengernyitkan dahi. Dalam kebingungan, ia bertanya-tanya.
Sepulang dari ibadah tarawih, ayahnya menanyakan kepada Fatimah apa yang terjadi pada kedua putrinya. Awalnya Fatimah tampak tidak ingin menceritakan hal itu. Ia ingin kejadian tersebut berlalu seperti angin—datang, lalu pergi dan mudah dilupakan.
Namun, pada akhirnya, rasa kasih sayang yang dimiliki suaminya mampu mendesak Fatimah untuk menceritakan apa yang terjadi.
“Siapa yang berani melakukan hal itu pada anakku?”
“Bapak sudah. Sudah tidak usah diperpanjang. Lagipula, anak-anak tidak mengeluhkan apa-apa. Mereka hanya merasa kaget.”