Baby Orca

Dianikramer
Chapter #17

Tujuh Belas

Lalu ia menemui kakaknya, meninggalkan tembok yang terdapat tulisan “Miracle”, namun kini tulisan itu sudah tidak jelas untuk dibaca. Dia menemui kakaknya itu, lalu memeluknya.

“Ii. Wah, sen, sih,” ucap Aisyah tidak jelas.

Firman menyela istrinya yang sedang menjelaskan apa yang terjadi. Firman menyampaikan pesan bahwa lukisan Tuan Edgar yang menjadikan Aisyah dan Sofiyah sebagai model di sawah, dengan pose tertawa sambil mengingat-ingat ingus hijau toska, sudah laku terjual.

Firman dan istrinya tidak tahu-menahu berapa harga jual lukisan tersebut. Namun, sebagai ucapan terima kasih, Tuan Edgar memberikan amplop kepada Aisyah dan Sofiyah.

Aisyah menangis tersedu-sedu. Ia menangis bahagia.

Fatimah membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat uang sebesar tiga juta lima ratus ribu rupiah.

Sofiyah menangis dan memeluk ibunya.

🪻🌺🌻

Keesokan harinya.

Aisyah dan ayahnya naik ojek untuk mendaftarkan Sofiyah ke sekolah.

Sesampainya di sana, seorang petugas tata usaha menerima pendaftaran, namun dengan syarat tambahan, yaitu Sofiyah harus mengikuti kegiatan dan mendengarkan ceramah.

“Pak, kenapa tidak mendaftarkan anaknya sebelum tanggal masuk? Kan, di brosur sudah tertera tanggal kapan berakhirnya gelombang tiga.”

Lalu dia mencatat data diri Sofiyah. Dia sepertinya malas menerima Sofiyah karena itu pertanda bahwa dia memiliki tugas tambahan.

“Berapa biaya pendaftaran, Bu?”

“Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu, Pak,” jawabnya ketus. Sepertinya kesal karena keterangan-keterangan tersebut sudah ada pada brosur.

Senyum tetap tergurat di wajah Sofi dan ayahnya. Sembari menunggu sang petugas tata usaha itu menyiapkan surat dan administrasi lainnya, Sofi melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Sofi tidak bisa menutupi rasa senangnya.

“Ini, Pak. Silakan ditandatangani.”

Lalu dia menyodorkan sebuah kertas.

“Untuk cicilan pertama, mau bayar berapa dulu, Pak?”

“Anu, Bu. Saya akan melunasi biaya pendaftaran.”

Lalu ayahnya langsung menghitung uang dan memberikan uang senilai satu juta delapan ratus ribu rupiah.

Entahlah, padahal hanya setumpuk uang, namun itu mampu membuat petugas TU tersebut menjadi lebih ramah.

Ayahnya memasukkan sisa uang ke dalam amplop.

“Bu, saya sekalian bayar bulanannya, dan baju olahraga serta batik.”

Dia mengeluarkan uang Sofi yang didapat dari Pak Edgar.

Sofi menatap ayahnya keheranan. Lalu petugas itu mendekati petugas lainnya. Mereka terlihat sedang berdiskusi.

“Anak Bapak sudah melunasi SPP sampai bulan November tahun depan.”

Sofi menatap ayahnya kebingungan.

Petugas TU itu memanggil salah satu anggota OSIS yang berpakaian sangat rapi.

“De, di kelas masih ada acara?”

“Iya, Bu. Ada acara siraman rohani.”

“Bu, saya izin ke toilet sambil lihat-lihat dulu, boleh?” tanya Sofi.

Lihat selengkapnya