Baby Orca

Dianikramer
Chapter #18

Delapan Belas

Sofi mendekati adiknya yang kini menjemur pakaian renang yang basah itu. Lalu, Utami memalingkan wajahnya.


“Kakak mau bikin aku malu?”


“Malu?”


“Iya. Aku salah apa sih sama kakak?”


“Eits, sebentar. Bisa kau jelaskan di mana letak kesalahanku?”


“Kenapa kakak masukkan ikan japuh ke dalam kotak bekal makanan milikku? Gara-gara kakak, aku dihina oleh mereka. Mereka bilang aku si Kepala Japuh. Padahal, mi goreng dan telur saja sudah cukup!”


Sofiyah terdiam.


Tiba-tiba ibu mereka datang membawa belanjaan.


“Ami, bagaimana? Enak tadi ikannya? Ibu sudah mau ambil cabai rawit satu buat makan ikan itu sama nasi panas. Tapi, Ibu ingat sama kamu. Ya sudah, Ibu masukkan saja ke dalam wadah bekalmu. Akhirnya, Ibu makan sama nasi pakai garam.”


*


Siang ini, para tetangga sedang bergumul di depan tukang sayur. Sofiyah kali ini mewakili ibunya untuk berbelanja.


“Anakmu kapan menikah? Pacaran terus, ya?” tanya Bu Indra kepada Santia. Sepertinya dia termasuk manusia yang punya semangat tinggi. Ya, semangat untuk mencampuri urusan orang lain.


Sofiyah memilah-milah biji jengkol mana yang bagus. Meski menyebalkan, Bu Indra kali ini memuji Sofiyah.


“Lihat nih, Bu. Si Sofi sudah kelas satu SMA, tapi nggak pernah pacaran!”


Sofi menunduk. Semua ibu-ibu yang ada di sekeliling Sofi menatap dengan penuh rasa bangga yang terpancar pada setiap sinar mata mereka.


Dalam hati, Sofi menggumam sendiri.


“Hmm, mereka belum tahu saja. Sebenarnya, ada beberapa lelaki yang mendekatiku untuk sekadar berteman dan ingin mengenalku lebih dekat. Tapi, pada akhirnya, akulah yang memutuskan untuk menjauh dari mereka.”


Karena ketika mereka memutuskan untuk menyambangi kediaman Sofi, ia seperti enggan melanjutkan kedekatan itu ke jenjang selanjutnya.


Lalu, Sofi memutuskan untuk membeli sayuran untuk sayur lodeh. Tak lupa, ia membeli satu buah kelapa untuk santan.


*


Ayahnya baru saja pulang dari kebun. Ia memasang wajah kecewa.


“Teh?”


“Iya.”


Ayahnya menikmati teh sambil melamun.


“Apa yang kau pikirkan?”


Lihat selengkapnya