Baby Orca

Dianikramer
Chapter #19

Sembilan belas

Sesampainya di dapur yang atapnya sedang direnovasi itu, Sofiyah berkata, “Permisi,” kepada seorang pria yang sedang memasang paku. Lalu, pria itu berpaling.


“Bapa!!”


“Sofi.”


“Anak Bapak sudah pulang?”


Sofi seperti merasa malu dan takut diintimidasi oleh teman-temannya.


“Alhamdulillah, Bapak dapat job.”


Tiara mendekati Sofi. Dia mengambil minum.


“Sofi, katanya kamu mau buang air kecil?”


“Iya. Oh iya, Tiara, kenalin, ini ayahku.”


“Oh.”


Lalu, Tiara bersalaman dengan ayahnya Sofi.


Sofi sedikit merasa tidak percaya diri. Namun, Tiara mampu meredam semua perasaan yang tengah berkecamuk di hati temannya itu.


“Kamar mandinya itu, Sof.”


“Oh, oke.”


Sofi melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Sementara itu, Tiara kembali ke arah ruang televisi sambil membawa sirup. Sofi mengelap tangannya yang basah, lalu berjalan ke arah ruang televisi.


“Bapak, Sofi ngerjain tugas dulu, ya.”


Lalu, ia berjalan meninggalkan dapur.


“Opi.”


“Iya, Pak.”


“Ini roti buatmu.”


“Bapak, tapi ini roti punya Bapak.”


“Sudah, bawa sana. Temanmu sudah menunggu.”


Lalu, mereka mengerjakan tugas matematika dengan sangat serius.


Keseriusan mereka harus terusik oleh kedatangan sebuah kulkas dua pintu. Dua orang tukang menggotongnya dengan penuh kepayahan. Lalu, mereka memutuskan untuk meletakkan kulkas tersebut di sebelah lemari pajangan. Mungkin maksud ibunya Tiara adalah agar kulkas itu terlihat bahkan dari luar teras rumahnya.


Akhirnya, setelah adegan membawa kulkas itu selesai mengalihkan perhatian mereka yang sedang mengerjakan tugas matematika—tugas yang mampu membuat susunan otak mereka menghembuskan sedikit asap di atasnya—mereka kembali melanjutkan pekerjaan.


Sampai pukul lima sore, mereka semua berpamitan untuk pulang, terkecuali Sofi yang menunggu ayahnya.


Sofi menyantap makan malam bersama keluarga Tiara. Kali ini mereka menyantap pepes gurame bumbu kuning. Aroma rempah menyembul dan masuk ke setiap rongga hidung, dihantarkan oleh asap.


Ayahnya masih bekerja. Sofi dan Tiara sudah duduk di kursi makan. Sementara itu, ibunya Tiara sedang membawa sayuran dan kerupuk.


Sofiyah termangu melihat santapan yang tersaji di depan matanya. Sepiring ikan gurame yang tersaji di atas piring berwarna hijau berbentuk daun memanjang itu sungguh sangat menggoda. Potongan cabai merah dan bawang daun menambah-nambah keindahan yang ada pada gurame itu.


Sementara itu, soto ayam yang baru saja dihangatkan membiarkan bawang goreng dan kacang kedelai yang berwarna cokelat itu berenang bebas.


Ibunya Tiara membawa nasi. Nasi itu bersih, putih, tidak seperti nasi yang selalu ia makan di rumah.


Ayahnya Tiara muncul dan tersenyum. Dari belakang datang ayahnya Sofi.


“Ayo, Pak, kemari. Kita makan sama-sama,” tawar ibunya Tiara.


Akhirnya, mereka makan bersama-sama.


Sebenarnya, makanan ini adalah keberkahan bagi Sofi dan ayahnya. Tapi, setiap nasi yang melesap ke dalam mulutnya seolah terus meronta dan mengingatkan mereka pada Utami dan ibunya di rumah.


Lalu, setelah selesai makan, ayahnya Tiara berbicara dengan ayahnya Sofiyah. Ia menjelaskan apa saja yang telah ia kerjakan sambil menunggu upah.

Lihat selengkapnya