Baby Orca

Dianikramer
Chapter #20

Dua Puluh

“Siap, Bu. Saya berangkat dulu, ya, Bu. Assalamualaikum.”


Sofiyah berpamitan setelah sebelumnya bersalaman dengan Ibu Siti, sang wali kelas.


Sofi tersenyum kepada Pak Satpam, lalu keluar dari gerbang sekolah.


“Sofi!” teriak Pak Satpam.


Sofi menghentikan langkahnya, lalu memalingkan wajah. Ia melihat Bu Siti berlari ke arahnya.


“Ada apa, Bu?”


“Ini ongkos buatmu.”


“Oh, tidak usah, Bu.”


“Eh, tidak apa-apa. Bawa ini.”


“Tapi, Bu, ini kebanyakan.”


“Sudah, bawa saja.”


Lalu Sofi melanjutkan perjalanannya.


Sebuah plastik sampah terbawa angin. Ringkih.


Sesampainya di sana, Sofi mengetuk rumah Tiara. Namun, tak kunjung ada satu pun orang yang menjawab.


Tanaman di depan rumah itu tampak kehausan, sementara lantai di depan teras seperti tidak pernah disapu.


Sofi membeli minuman jeruk di warung yang lokasinya tidak jauh dari rumah Tiara. Setelah meneguk segarnya air jeruk yang telah meluncur ke kerongkongannya, ia kembali ke rumah Tiara.


Ia kembali mengetuk pintu.


“Assalamualaikum,” Sofi mengucap salam.


“Aaaah?!!”


Tiba-tiba ada yang menjambak rambut Sofi. Sofi masih kaget. Belum sempat ia melepaskan diri dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi, tiba-tiba satu tonjokan mendarat di wajah Sofiyah.


“Ampun, Bu! Ada apa?” teriak Sofiyah.


Rantang yang Sofi bawa terpental dan jatuh berantakan. Rantang itu hancur. Wanita bertubuh besar itu terus menonjok wajah Sofiyah.


Sofiyah mencoba melawan dan berteriak, “Tolong! Tolong!”


Teriakannya itu terdengar oleh tetangga yang bermukim di kawasan tersebut.


Lalu mereka dipisahkan. Pertengkaran itu akhirnya bisa dilerai dan diredam.

Lihat selengkapnya