Baby Orca

Dianikramer
Chapter #21

Dua Puluh Satu

Sofiyah berjalan ke arah kotak beras yang terbuat dari besi itu. Ia memasukkan tangannya ke dalam beras dan terus mencari sesuatu sampai akhirnya tangannya menggenggam sesuatu.


Ia mengangkat kaleng bekas rokok berwarna merah yang terdapat sebuah garis melintang di atasnya. Garis itu berwarna emas.


Ia mengambil kaleng itu. Ia memejamkan matanya. Ia mengingat bahwa setiap hari Kamis dan Senin adalah jadwalnya menyisihkan uang ongkos angkutan umum. Untuk dapat menyisihkan uang tersebut, ia rela berangkat sangat pagi bersama mobil pick-up yang mengangkut sayur.


Ia belum memejamkan mata. Uang ini ia kumpulkan semata-mata hanya untuk membelikan ayahnya sepasang sepatu.


Kesedihan macam apa yang menyapa, sehingga air mata pun seolah enggan singgah?


Dia memberi uang seratus lima puluh ribu untuk adiknya dengan harapan adiknya tidak lagi bersedih atas tragedi kotoran ayam tersebut. Sofi tak lupa menyisihkan uang seratus ribu untuk ibunya.


🌻🌺🪻


Hari ini Sofi menginap di rumah jagaan vila. Sofi bersyukur. Meski ia bukan orang berada, setidaknya ia bisa menikmati suasana damai yang disponsori oleh tanaman yang berbaris dan berjejer bak prajurit perang yang selalu bersiaga menjaga dan mengembuskan angin segar.


Lalu, kapan lagi dia bisa menenggelamkan separuh kakinya ke dalam kolam? Ia memasukkan jari-jarinya ke dalam air yang birunya dapat menyejukkan mata.


Rasa syukur pandai berkelit. Sesulit apa pun keadaanmu, ia selalu mampu muncul, sepelik apa pun itu.


Dan apa pun itu, berbahagialah.


“Teng, teng, teng.”


Suara tukang bakso melintas. Suaranya terus bergentayangan, lalu Sofi dan Aisyah memesan tiga mangkuk bakso. Untung saja, sedari kecil, Sofiyah sudah hafal dengan selera kakaknya. Sudah hafal di luar kepala.


“Baksonya campur, tapi enggak pakai bihun, ya, Mas.”


Firman, Sofiyah, dan Aisyah meracik bumbu yang mereka kehendaki.


Saat akan membayar, Firman menggerutu, “Haduh, uangnya ketinggalan.”


“Pakai ini saja dulu,” ucap Sofi sambil mengambil uang seratus ribuan dari dompetnya.


“Sof, nanti Aa ganti, ya.”


“Iya, A. Tenang aja.”


Lalu, mereka menikmati bakso di teras vila. Firman menghabiskan semangkuk bakso itu dengan cepat. Lalu, ia meninggalkan istri dan adik iparnya. Ia lanjut membabat rumput di belakang.


Lihat selengkapnya