Wanita dengan setiap helai rambut yang memutih dan setiap kerutan yang tergambar pada wajahnya itu kini mampu membuka mata dan mengembuskan napas sesuai dengan ritme yang seharusnya.
Seperti sebungkus makanan yang terbuang tidak sengaja, ada pertaruhan ketika mengambil benda tersebut. Apakah ciki tersebut masih ada atau tidak?
Begitu pula yang dirasakan oleh nyonya yang sudah renta tersebut.
“Ibu sudah melewati masa kritisnya.”
“Syukurlah.”
Percakapan mereka berlangsung di depan jendela kaca yang membiarkan mereka melihat keadaan pasien yang sudah menemukan hasil petaruhannya.
“Nadhira, Ibu dan Ayah harus tinggal dulu di sini untuk sementara waktu. Kira-kira, kita akan pulang minggu depan,” ucap ayahnya.
“Aduh, Bu. Dhira sudah beberapa hari ini tidak sekolah,” jawab Nadhira.
“Sudah, kau pulang saja. Nanti Ayah dan Ibu menyusul pulang.”
Lalu, akhirnya, Nadhira pulang dari Kota Malang dengan kereta api. Dia diantar oleh sepupunya.
Pulang bersama ayah dan ibunya seperti bukan pilihan. Sebab, eyang Nadhira ingin diurus oleh ibunya. Sementara itu, Nadhira sudah bolos tiga hari.
Suara derit roda kereta nyatanya mampu membuat dia tertidur lelap.
Sesampainya di Stasiun Senen, Nadhira yang kelelahan itu harus dibuat jengkel oleh sekumpulan keluarga yang bertamasya di stasiun. Mereka menghalangi jalan.
Dalam hati, dia menggerutu sambil melihat orang-orang yang berisik itu. Mereka membawa makanan dan tikar.
Dengan langkah yang penuh emosi, dia berjalan. Nadhira berjalan ke arah satpam.
“Tolong, ya, Pak. Ada orang piknik di sana,” keluh Nadhira.
Tanpa menjawab atau setidaknya menanggapi keluhan Nadhira, satpam itu langsung berjalan ke arah keluarga yang sedang piknik tersebut.
Pada jarak yang jauh, Nadhira melihat satpam tersebut mengangkat-angkat sebuah tongkat hingga anak yang sedang ikut piknik pun tampak panik.
Tiba-tiba, rasa jengkel yang ada di dada Nadhira sirna.
Ia lanjut pulang menaiki bus ke arah Bogor.
Nadhira tertidur di dalam bus. Sampai pada akhirnya, dia terbangun dalam perjalanan oleh ponselnya yang berdentang.
Ponsel itu nyaring berbunyi sebab ibunya ingin menanyakan kabar anaknya. Lalu, Nadhira memberitahukan keadaannya dan sudah sampai di mana. Setelah itu, ia lanjut tidur.
Sesampainya di rumah, dia beristirahat, lantas menyadari bahwa esok adalah hari Minggu.
Dia tersenyum simpul.
Kenapa dia tidak pulang besok saja?
Lalu, dia beristirahat.
🌻🌺🪻