“Maaf, Nadhira. Tas itu sudah tidak ada padaku.”
Jutaan petir hebat terus-menerus menyambar dinding hati Nadhira. Ia meneguk susu murni itu perlahan, sementara pandangannya kosong.
Sofiyah menceritakan bahwa beberapa hari lalu, istri Uncle Sam membutuhkan biaya untuk operasi anaknya. Sementara itu, Uncle Sam sudah banyak membantu keluarganya.
Padahal, keluarga Sofi pun sedang kesusahan.
Kabar tentang tas Baby Orca yang kini naik daun itu pun diketahui oleh Uncle Sam yang terbiasa berbelanja dan berjualan aksesori wanita. Konon, tas itu dijual kepada seorang remaja yang berdomisili di Makassar.
Hening.
Rasa kecewa bercampur iba menyelimuti relung hati Nadhira. Rasa malu bercampur haru ketika ia dan ambisinya berharap kepada manusia dengan kisah yang pilu.
🌻🌺🪻
Siang itu, Sofiyah dan Utami menginap di vila. Mereka berenang dan menikmati suasana asri di vila sepuasnya.
Mereka mencari kakaknya yang sedari tadi keluar. Aisyah bilang bahwa dia akan pergi ke warung, tetapi dua puluh menit rasanya terlalu lama untuk mengunjungi sebuah warung, terkecuali membeli sambil bergosip.
Karena khawatir dengan kakaknya, mereka berdua menyusul sang kakak. Mereka berjalan di jalan sepi di area ini.
Tak lama, mereka melihat kakaknya sedang berjongkok di pinggir jalan.
Mereka berlari ke arah kakaknya. Mereka memaksa kakaknya untuk segera kembali ke vila.
Sesampainya di vila, Sofiyah dan Utami berjalan terlebih dahulu ke dalam vila. Sementara itu, Aisyah berjalan lambat mengikuti mereka sambil sesekali menendang bunga cemara.
“Ketemu di mana?” tanya kakak iparnya, mengagetkan.
“Itu, tadi ketemu di pinggir jalan. Lagi kasih makan kucing,” jawab Sofiya.
“Hehe, iya. Dia sengaja beli makanan kucing di supermarket. Terus, dia bagiin ke kucing yang lewat,” jawab Firman sambil tersenyum.
“Oh, sekantung makanan kucing yang ada di garasi itu, ya?” tanya Sofia.
“Iya. Di sini, ‘kan, tidak boleh melihara kucing,” jawab Firman memberi informasi.
“Oh, begitu...” ucap Sofia. Matanya menatap lurus ke depan.
“Dek, kamu tahu enggak?” tanya Firman.
“Hmm... apa, Kak?”
“Karena hal-hal semacam itulah, aku mencintai kakakmu.”