Baby Orca

Dianikramer
Chapter #29

Dua Puluh Sembilan (Ending)

Sore itu, Uncle Sam dan anaknya berkunjung ke rumah kontrakan yang dihuni oleh keluarga Sofiyah. Seperti berlari di sebuah stadion, sebenarnya yang mereka obrolkan adalah seputar kecurangan yang dilakukan oleh kerabat mereka sendiri.


Sofi menangis jika teringat semua rentetan kejadian itu. Ia merasa lelah. Seperti influenza, ternyata tangisan mampu menular. Utami dan Fatimah ikut menangis.


Uncle Sam menjelaskan bahwa sebenarnya menggapai sebuah mimpi bukanlah mengambil bintang di langit yang bahkan kita tidak tahu seberapa jauh jaraknya.


Anggap saja, jika menggapai mimpi itu adalah menyalakan lampu yang mampu menerangimu dan sekitarmu. Kau hanya butuh tangga yang mampu membantumu menggapai itu—menyalakan lampu. Kali ini, kau harus bersabar, sebab bangku yang digunakan oleh ayahmu untuk menggapai mimpi itu sedang rusak. Bangkunya yang patah, bukan keinginan ayahmu yang surut. Bangku boleh patah dan kamu belum mampu menyalakan lampu karena bangkunya patah. Tapi bukan berarti kamu tidak pernah bisa menyalakan lampu. Sebab, bangku masih bisa diperbaiki.


🌻🌺🪻


Utami dan Sofi sengaja mampir ke rumah yang dulu mereka tinggalkan. Sesampainya di sana, mereka mendapati bahwa sebagian dari rumah tersebut tengah dirombak. Utami menangis sambil sesekali menjerit. Ia tidak ikhlas jika rumah itu dipermak.


Sofi mencoba menenangkan Utami yang terduduk. Orang-orang. Para pekerja yang sedang merombak rumah yang penuh kenangan itu berhenti sejenak. Mereka bersimpati pada kedua anak itu. Lagi pula, siapa yang akan membiarkan anak-anak menangis? Tangisannya terdengar seperti lengkingan suara biola yang dipaksa memainkan nada-nada minor.


Mereka berhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali pekerjaan mereka. Yang mereka tahu hanyalah bekerja dan merombak rumah itu. Seorang wanita yang memakai blouse putih merangkul dan menggiring mereka ke rumahnya.


Di depan Nadhira dan ibunya, Sofi menceritakan pilu yang telah menghantam kebahagiaan mereka. Nadhira dan ibunya turut bersedih. Mereka berdua tak menyangka bahwa tetangga mereka itu harus kehilangan rumah dengan cara seperti itu.


Akhirnya, dengan luka yang menempel akibat pemandangan tadi, mereka pulang dengan membawa sekantung makanan dan seamplop uang dari ibu Nadhira.


🌻🌺🪻


Sudah hampir seminggu Sofi tidak masuk sekolah. Padahal, dua minggu lagi adalah jadwal untuk ujian praktik. Sofi hanya bisa tertidur, lalu terbangun dengan keadaan bantal yang basah.


Ia tak mampu menekan kedua orang tuanya. Ia tak sampai hati. Dia menyadari bahwa tangganya mungkin sedang patah.


Ia mengambil sebuah pulpen, lalu kembali menuliskan kata Miracle di dinding. Setelah itu, ia menutupinya dengan kalender hadiah dari sebuah toko emas. Tulisan itu dibuat dengan sisa asa yang perlahan terputus, seolah gairahnya telah ikut menguap bersama harapan yang semakin menipis.


Namun, menyebalkan! Begitu menatap kalender yang menutupi tulisan tersebut, ia justru melihat wajah perempuan di dalam gambar itu. Perempuan itu tampak begitu optimistis dan penuh harapan—sangat kontras dengan wajahnya sendiri yang sedang muram.


“Asalamualaikum.”


Setelah menjawab salam itu, sesosok wanita dengan paras menyejukkan masuk ke dalam. Sofi malu dan canggung atas kedatangan wali kelasnya itu. Fatimah membuatkan teh untuk Ibu Siti.

Lihat selengkapnya