Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #1

Rana dan NARA

September, 2025

Brand Meeting

Lima perempuan dengan tawa korporat sibuk berdiskusi di meja nomor dua puluh Crumbs & Stories Café. Pandangan mereka terpaku pada layar laptop yang menampilkan power point untuk NARA, sebuah brand skincare yang konsepnya sedang mereka bedah.

“Menurut gue masalah NARA ini bukan awareness. Tapi positioning-nya yang masih terlalu generik.” Ucap Rahmi sebagai brand manager.

Seorang waiter datang membawa pesanan minuman mereka dan meletakkan satu per satu gelas sesuai pemesannya.

“Terima kasih, Mbak.” Ucap Kirana saat menerima segelas ice lemon mint tea miliknya.

“Identitasnya nggak jelas. Awalnya skincare khusus buat kulit sensitif. Tapi sekarang anti-aging ada, brightening ada, acne ada, bahkan terakhir launching body care juga.”

“Masalah NARA itu kehilangan identitasnya.”

Di tengah meeting, tiba-tiba seorang anak kecil menarik ujung lengan kemeja Kirana. “Tante Rana, aku mau pipis.”

“Caca…” Ucap Kirana pelan.

Semua melihat ke arah mereka dan terdiam. Sementara di sebelah Kirana, Caca menari kecil karena menahan pipis.

“Maaf. Sebentar, ya.” Kirana berlari kecil mendorong punggung Caca. Mereka menuju ke arah toilet yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja.

Saat Kirana berada di toilet, temen-temennya saling menatap.

“Harus banget, ya, keponakannya diajak setiap kali kita meeting?”

“Emang segitunya banget nggak ada yang jagain?”

“Kak Rahmi, lo temen kuliahnya Kirana, kan? Orang tua si bocil ke mana?”

Rahmi meneguk minumannya sebelum menjawab. “Nggak setiap kita meeting kok, baru juga dua kali…”

“Tiga, sama hari ini.” Timpal salah satu temannya.

“Iya, tiga kali. Orang tuanya Caca kerja, jadi yang jagain dia di rumah cuma Kirana sama ibunya. Mungkin hari ini ibunya lagi pergi.”

“Untung kita WFH, ya. Tapi kerjaannya nggak keteteran, kan?”

“Kita tuh sebenernya nggak masalah sama Kirana. Kerjanya cepet, hasilnya bagus, oke lah. Keponakannya juga sebenernya nggak rewel sih. Cuma kalau tengah meeting minta ini itu kan repot juga.”

“Lo bilangin sama dia dong, Mi. Atau suruh orang tua itu bocil bayar baby sitter.”

Melihat Kirana sudah kembali dari toilet, Rahmi menjawab permintaan teman-temannya dengan anggukan. Setelah memastikan Caca sudah duduk manis di meja nomor dua puluh satu tepat di sampingnya, Kirana kembali duduk di kursinya. Meeting yang sempat tertunda pun dilanjutkan.

“Oke, kita mulai lagi, ya.” Rahmi berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya.

Lihat selengkapnya