Oktober, 2009
Iya Pertama
Dengan seragam SMP yang sudah keluar dari roknya, Kirana menggandeng anak kecil berseragam SD, yang berjalan riang di sebelahnya. Sebuah kertas menyembul keluar dari tas ungu di punggung adiknya. Wajahnya tetap ceria meskipun dia sudah pulang sekolah dari dua jam lalu.
Sambil berjalan menyusuri deretan rumah, Kirana teringat obrolannya dengan Mama semalam.
Mendengar pintu depan terbuka, Kirana berlari keluar dari kamarnya. Dia mengambil air putih sebelum perlahan mendekati Mama yang duduk di meja makan, masih menggunakan baju kerja. Dengan wajah kusut, mata Mama terpaku pada ponsel Nokia di tangannya.
Kirana meletakkan air putih di depan Mama. “Ma, aku mau…”
“Mulai besok kamu jemput Anjani terus temenin sampe Mama pulang, ya. Tante Ita udah pindah ke Surabaya, nggak bisa jemput Anjani lagi.” Mama melempar ponselnya sembarangan ke dalam tas coklat di pangkuannya.
“……”
Air putih itu dihabiskan Mama dalam sekali teguk. “Mama sama Papa harus kerja. Mbak juga cuma beres-beres, terus pulang. Nggak bisa jagain sampe malem.”
“Jemputnya nanti ganti-gantian sama Kak Prama, kan?”
Mendengar namanya disebut, Prama menyahut dari ruang tengah. Melupakan komik yang sedang dibacanya.
“Nggak, ah! Gue ada ekskul bola.”
“Tapi Ma, aku mau ikut ekskul jurnalistik. Tadi diajakin Bu Retno.”
“Ya elah, Ran. Ekskul jurnalistik buat apa sih?” Ucap Prama ketus. “Mau lo capek-capek nulis yang bagus, itu mading sekolah juga nggak ada yang lihat.”
Karena perbedaan usia hanya dua tahun, membuat Prama dan Kirana selalu bersekolah di tempat yang sama.
“Lah, ekskul bola buat apa? Lari-larian doang ngejar satu bola.” Sahut Anjani yang langsung bersembunyi di balik kaki Papa karena dikejar Prama.
“Yang di luar sekolah gitu nanti aja pas kamu SMA. Pokoknya mulai besok kamu jemput Anjani. Udah ya, Mama capek banget.”
Tanpa menunggu jawaban Kirana, Mama langsung beranjak masuk ke kamarnya. Meninggalkan gelas kosong di atas meja makan. Melihat Kirana yang menunduk sambil memainkan jari tangannya, dengan cepat Papa mendekati anaknya.
Papa mengelus rambut Kirana dan berbisik. “Anak hebatnya Papa, tolong kamu jemput sama temenin Anjani dulu, ya. Nanti Papa tambahin uang jajan kamu. Tapi jangan bilang-bilang Mama sama Prama.”
Khayalannya menghilang saat Kirana merasa ada yang menarik tangannya.
“Kakak tadi kok lama? Aku udah bosen nunggu di ruang guru terus.”
“Pulang sekolahnya aja duluan kamu. Kan sekolah kakak pulangnya sore.”
Wajah Anjani mengkerut, tidak puas dengan jawaban kakaknya.
“Kak, kenapa sih bukan Mama yang jemput aku? Kayak temen-temen aku yang lain?”
“Mama kan kerja.”
“Tapi aku…”