Januari, 2016
Rencana Pernikahan Prama
“London… London… Ingin ku ke sana…” Dimas bernyanyi di nada A.
“London… London… Pergi menyusulnya…” Kirana meneruskan dengan suara 2.
Nadine duduk di depan mereka, berharap lagu penyambutan ini cepat berakhir. Jika BCL ada di sini dia pasti lebih memilih menerima pre-order rendang lima kilogram, daripada harus mendengar pembagian suara yang sangat asimetris ini.
Nadine Rose Asmarani.
Garis keturunan Inggris dari neneknya terlihat jelas di wajahnya. Kulitnya cerah, dengan hidung mancung dan garis wajah yang tegas. Rambut brunette panjang dengan potongan long layers jatuh bergelombang alami membingkai wajah ovalnya. Rambut yang selalu ditata rapih kapan pun Nadine keluar rumah. Tatapan mata Nadine tajam, seperti dapat menilai seseorang hanya dalam sekali pandang.
Dengan tinggi 174 sentimeter dan postur yang ramping, Nadine selalu berjalan dengan kepala tegak dan langkah mantap, terlihat sangat percaya diri. Seperti tidak pernah ragu dengan semua pilihan yang diambilnya.
“Kuliah di London kok ngomong lo nggak british kayak Harry Potter, Nad?”
“Lo harus tau kelakuan Dimas waktu lo nggak ada, Nad.”
“Parah… Masa baju gambar ratu Elizabeth titipan gue nggak dibeliin.”
“Udah kuliah jauh-jauh, kok nggak bawa pulang cowok british sih.”
“Berisik lo berdua. Gue balik juga nih!”
Dimas dan Kirana tertawa bahagia karena berhasil membuat Nadine kesal di pertemuan pertama, setelah bertahun-tahun sahabat mereka itu kuliah di London.
Sebagai anak SMA yang pada tahun 2012 sudah menggunakan Comme des Garçons x Converse, Nadine punya kebebasan memilih kuliah di mana pun sesuka hatinya. Setelah melakukan riset, dia memutuskan mendaftar di jurusan arsitektur University College London (UCL) yang berhasil ditembusnya dengan mudah. Sementara itu, Dimas dan Kirana berakhir di kampus swasta lokal karena mereka gagal di jalur SBMPTN dan harapan lewat jalur SNMPTN hanya angan-angan, karena nilai rapor yang pas-pasan.
Melihat Nadine duduk di meja makan, Anjani yang sedang turun tangga langsung berlari heboh ke arahnya dengan kedua tangan terbuka lebar.
“Kak Nadine!!”
“Akhirnya ada juga yang bener.” Anjani menatap sinis dua sahabatnya.
Nadine menyambut perlukan hangat Anjani dan memberikannya sebuah tote bag bergambar tower bridge.
“Ini hadiah khusus buat anak SMP yang udah nggak dijagain kakaknya lagi.”
“Terima kasih, Kakak! Mudah-mudahan cepet lulus, terus cepet punya pacar british secakep Chris Pine.” Anjani melihat ke dalam tote bag di tangannya. “Ih, coklatnya banyak!”
“Bagi, Jan.” Dimas mengulurkan tangannya.
“Ogah!” Anjani menjulurkan lidah dan berlari kembali ke kamarnya di lantai dua.
Tanpa menunggu dipersilahkan, Nadine menyantap ketoprak yang sudah disiapkan Kirana.
“Sumpah, di sana nggak ada makanan seenak ini.”
“Abis lulus kuliah lo jadi nyari kerja di sana, Nad?”
“Bokap nyuruh langsung lanjut S2, tapi gue pengen magang dulu.” Nadine membersihkan saus kacang di ujung bibirnya. “Lebih bagus lagi kalau bisa langsung dapet kerja, biar punya pengalaman dulu gitu sebelum nerusin sekolah. Jadi tahan kangennya ya, gue masih lama di sana.”
“Halah, paling ujung-ujungnya disuruh bokap lo ngurusin kantornya.”
Ucapan Dimas disambut dengan anggukan Kirana.
“Sebenernya gue juga mikir gitu sih. Kalau lo berdua, abis lulus mau kerja di mana?”
“Tadinya gue pengen kerja di big four kayak orang-orang. Tapi kalau lihat kemampuan otak yang cuma segini, kayaknya gue bisanya nonton The Big Four doang di Netflix. Ya… nggak tau juga. Lihat nanti, lah.” Jawab Dimas pasrah.
“Kalau gue penasaran kerjaan copywriter. Tapi kayaknya harus belajar lagi, deh.”
Perbincangan mereka diinterupsi dengan kedatangan Papa.
“Kirana, uang buat jahit kebaya udah Papa transfer ke rekening kamu, ya. Papa tambahin juga buat jajan sama Nadine.”
“Aku, Om?” Dimas menunjuk dirinya sendiri.
“Dimas boleh. Sedikit.” Melihat perubahan wajah Dimas, Papa tertawa, “Hahaha… Om becanda. Tadi Om ngasihnya banyak kok. Bisa buat beli mobil…… Tamiya. Hahahaha.”
“Mau ketawa nggak lucu. Mau nggak ketawa nggak enak.” Ucap Dimas setelah Papa pergi.
“Jadi juga kakak lo nikah?”
Hari ini rumah Kirana terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak orang-orang yang tidak dikenal Nadine dan Dimas.
“Sampe hari ini sih masih jadi. Lo lihat tuh nyokap gue gelisahnya kayak apa. Anak laki-laki kesayangannya mau jadi penganten. Padahal masih tujuh bulan lagi.”
“Eh tapi ya, Dim. Gue penasaran tau…”
“Kayaknya gue paham, lo mau ngomong apa.” Mata Dimas berkilat-kilat.