Oktober, 2019
He’s Coming
Melihat dua sahabatnya bersiap memecah suara, Nadine langsung membuat ultimatum.
“Yang nyanyi, gue ambil lagi semua titipannya.”
“Jangan terlalu emosi, ah. Nggak baik buat jantung.” Dengan tenang tapi pasti, Dimas menarik tote bag bergambar ratu Elizabeth ke arahnya.
Dimas Putra Pradana.
Rambut hitamnya dipotong rapi, dengan bagian samping yang lebih pendek, dan bagian atas yang sesekali tampak berantakan seperti sengaja tidak disisir. Potongan rambut itu mempertegas garis rahangnya.
Tinggi 177 sentimeter dengan kulit sawo matang karena terlalu banyak bermain futsal saat SMA. T-shirt band dan celana jeans menjadi pakaian favoritnya, seperti hari ini. Matanya tajam, hidungnya mancung, dan senyum lebar yang nyaris tak pernah lepas. Tapi berbeda dengan senyum Kirana, senyum Dimas mengundang orang untuk ikut tersenyum bersamanya.
Dimas selalu mudah berteman dan hampir tidak pernah memikirkan omongan orang lain. Ada aura tertentu yang dimiliki Dimas yang membuat orang mudah akrab dengannya. Kepalanya nyaris tak pernah kehabisan ide, meski sebagian di antaranya aneh bahkan ajaib.
“Kan, bener kata gue. Ujung-ujungnya lo balik juga ke sini.” Kirana menyimpan tote bag miliknya dengan rapih di dekat kaki.
“Mau gimana lagi, penyandang dana nyuruh pulang abis lulus S2. Gue aja nggak sempet ngerasain kerja di sana.” Nadine meneguk kopinya.
“Kakak gue lebih milih buka resto, terus sekarang kabur ke US ngikut kerjaan suaminya. Kalau bukan gue, siapa lagi yang nerusin kantor bapak gue. Mulai bulan depan gue jadi arsitek di sana. Ya… siapa tau sepuluh taun lagi itu kantor berubah jadi nama gue.” Lanjut Nadine.
“Rich people problem.” Ucap Kirana.
“Ya emang rich, mau gimana lagi.” Jawaban Nadine disambut dengan tepuk tangan bangga kedua sahabatnya.
Dari tasnya, Dimas mengeluarkan kotak plastik berisi brownies.
“Lo beli brownies di mana yang bungkusnya pake tempat makan gini?”
“Bikin.” Jawab Dimas santai, diikuti tatapan ragu-ragu kedua sahabatnya.
“Sejak kapan lo bikin brownies?” Nadine mengambil secuil brownies di ujung tempat makan.
“Sejak bos gue makin demanding. Udah lah, cobain dulu.”
“Emang kita boleh bawa makanan dari luar?” Kirana melihat sekeliling kafe ragu-ragu.
Dimas menoleh ke arah bar area. “Lex, gue bawa makanan ya!”
Dengan senyum lebar, barista berbaju kuning yang sedang men-steam susu memberikan jempolnya.
“Lo kenal, Dim? Bukannya kafe ini baru buka sebulan?”
“Kan lo berdua lama sampenya, jadinya gue ngobrol dulu.”
Kirana menggelengkan kepala. Setelah sembilan tahun bersahabat, Kirana masih tidak paham bagaimana caranya Dimas bisa memulai pertemanan dengan orang yang tidak dia kenal.
“Jadi ini brownies apa? Kok rasanya kayak ada cinnamon-nya?” Nadine mengecap-ngecap mulutnya.
“Brownies pisang goreng. Jadi di atas browniesnya ada caramelized banana yang gue kasih kayu manis. Gue kepikiran pisang madu yang suka kita beli. Jadi gue bikin browniesnya agak pahit, biar manisnya dari caramelized banana-nya aja.”
Kirana mengambil satu gigitan besar. “Enak. Pisangnya masih berasa, nggak kalah sama browniesnya.”
“Selain jadi budak korporat gue mau jualan brownies, namanya Inside Dim’s Head. Kenapa namanya itu? Soalnya gue mau bikin rasa-rasa yang kepikiran di kepala gue. Bukan rasa brownies standart yang udah ada sekarang. Sistemnya PO, nanti dikirimnya dari kantor gue pake ojek online. Gimana?”
Tidak ada jawaban dari dua perempuan di depannya yang mulutnya penuh dengan brownies. Hanya empat jempol yang diacungkan dan itu cukup untuk Dimas.
“Gue ada interview lagi nih. Ditawarin jadi marketing analyst di timnya senior gue di kampus. Kantor pusatnya di Singapore, di sini nggak ada kantor jadi semuanya remote. Gimana?”
Lagi-lagi tidak ada jawaban, hanya empat jempol tapi itu juga sudah cukup.
“Eh, Ran, waktu di pesawat kemarin gue tau rasanya jadi Anya di Critical Eleven.” Nadine mengubah duduknya menghadap Kirana, lalu bercerita dengan excited. “Jadi di samping gue itu cowok cakep banget, yang gue yakin perutnya kotak-kotak. Terus selama flight dia ngajak ngobrol gue, nanya-nanya dari mana, mau ke mana, hobinya apa, mau ngapain di Jakarta, tinggal di mana. Gue yakin sih dia lagi flirting sama gue.”
“Kan lo satu pesawat, ya. Emang bisa minta turun duluan di Cirebon?” Ucapan Dimas membuat pahanya dipukul Kirana yang menahan tawa.
“Kenalan nggak?” Tanya Kirana.
“Iya, dong. Instagram sudah di tangan, kawan.”
“Coba lihat!” Dimas mengulurkan tangannya.
“Ogah! Males gue kalau tiba-tiba lo kenal bapaknya. Nanti gue kasih tau, Ran.” Melihat gelasnya yang sudah kosong, Nadine mengambil dompet dari Polène Numéro Un miliknya dan meletakkan tas itu kembali di kursi, bersebelahan dengan tas unbranded dari Shopee milik Kirana dan jaket jeans milik Dimas.
“Ada yang mau minum lagi?”
Kirana mengangkat tangannya. “Mau air putih.”