Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #5

Lelahnya Kirana

Januari, 2023

Mengapa?

PSBB resmi dicabut sejak awal tahun. Semua orang di rumah Kirana sudah kembali berkegiatan seperti biasa walaupun masih harus menggunakan masker.

Pagi ini Kirana bangun dengan malas.

Bukan karena harus bekerja, tapi karena dia tahu akan kembali terkurung berdua dengan Caca yang kini sudah masuk TK. Sekarang rutinitasnya sedikit berubah. Setiap pukul sebelas, Kirana harus menjemput keponakannya di sekolah. Lalu dia kembali harus menggantikan baju, menyuapi, menemani Caca sampai orang tuanya pulang. Kegiatan yang menurut Prama ‘nggak ngapa-ngapain.’

Bahkan sebelum keluar kamar saja, Kirana harus menarik napas panjang terlebih dulu. Menyiapkan fisik dan mentalnya untuk menghadapi hari ini. Karena dengan anak kecil, tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Saat Kirana keluar kamar, seisi rumah sudah sepi karena semua orang sudah pergi ke tujuannya masing-masing. Kirana membuka tudung saji untuk melihat menu apa yang tersisa pagi ini. Sebuah styrofoam di samping piring ayam goreng menarik perhatiannya. Bagian atasnya terdapat tulisan tangan Papa ‘Punya Kirana’. Di dalamnya berisi setumpuk cumi goreng tepung.

Tidak lama sebuah chat masuk ke ponsel Kirana.


Papa              : Semalem Papa beliin cumi goreng tepung kesukaan kamu.

            Tapi pas Papa pulang, kamu udah tidur.

Jangan dikasih Caca ya. Dia udah dibeliin ayam sama Mama.

Kirana Ayu    : Terima kasih, Pa.


Bayangan makan siang dengan nasi putih hangat dan cumi goreng tepung membuat Kirana tersenyum. Senyum pertamanya hari ini.

Tapi sayang senyum ini tidak bertahan lama.

Siangnya, Caca yang tidak mau makan berlarian ke sana kemari. Nasi di piringnya masih banyak. Kirana membiarkan anak itu bermain walaupun makanannya belum habis dan memanfaatkan waktu tersebut untuk bekerja. Walaupun harus ditemani suara Caca, karena mulutnya hanya digunakan untuk bernyanyi bukan untuk mengunyah.

Pekerjaan Kirana hari ini cukup banyak. Sampai di satu titik dia menyadari jika keyboard laptopnya kotor, karena minyak dan serpihan dari ayam goreng yang masih menempel di ujung-ujung jarinya. Kirana melihat piring makan Caca, walaupun menggunakan sendok tapi dia tetap harus memotong ayamnya dengan tangan. Sambil mengelap tangan dan keyboardnya dengan tisu, dia mencoba menarik napas panjang, tapi tertahan di tengah dadanya.

Sekelilingnya kosong, hanya suara Caca yang terdengar di ruang tamu. Piring berisi nasi dan beberapa potongan ayam yang sudah mulai kering, terduduk di samping laptopnya. Deck presentasi yang sudah dia kerjakan dari semalam belum juga selesai. Semua itu membuat kepalanya penuh.

Kirana meninggalkan Caca, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Dia duduk di atas tutup kloset, masih mengenakan baju yang sama sejak pagi. Tangannya menyalakan keran air, tapi dia biarkan mengalir begitu saja untuk menyamarkan suara. Tangannya gemetar, dadanya sesak seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. Lalu tangis keluar begitu saja. Pendek, tertahan, seperti orang yang takut ketahuan.

Mengapa dia menangis? Kirana tidak tahu jawabannya.

Tidak ada kejadian buruk hari ini.

Tidak ada yang memarahinya. Dia hanya merasa… kosong.

Tok… Tok… Tok…

“Tante, aaa lagi, Tante.” Terdengar suara kecil Caca di balik pintu kamar mandi.

Lihat selengkapnya