Agustus, 2024
Perdebatan Sabtu Pagi
Kirana yang sudah berpakaian rapih mendekati Anjani yang sedang bersantai di sofa ruang tengah. Hari Sabtu seperti ini, sangat jarang bisa menemukan adiknya di rumah pada pukul delapan pagi. Karena biasanya dia sudah berkeliaran dengan teman-temannya.
Anjani Sukma Anandita. Adik Kirana yang berbeda tujuh tahun dengannya.
Rambut hitamnya dipotong model long bob, dengan wispy bangs yang jatuh tepat di atas alis membingkai wajah bulatnya yang cerah. Ekspresi wajahnya yang datar kerap membuatnya tampak dingin di mata orang lain. Padahal begitu tersenyum, dua gigi kelinci membuat wajah manisnya sulit dilupakan.
Dibandingkan kedua kakaknya, Anjani yang memiliki tinggi 164 sentimeter terlihat lebih mungil. Di balik kesan dinginnya, sebenarnya Anjani adalah pribadi yang ramah -kecuali jika berhadapan dengan Prama-.
“Tumben lo nggak pergi-pergi.” Kirana menjatuhkan badannya di sofa samping Anjani.
“Nanti sorean gue mau nonton konsernya Juicy Luicy.”
“Jan, lo udah lihat gelang yang dipake Winter Aespa belum? Lokal brand ternyata.” Kirana menunjukkan sebuah foto di Instagram.
“Udah lihat semalem. Lucu banget!” Anjani menaikkan nada suaranya.
“Lo pasti suka warna ungunya kan. Lihat deh yang pink, rose gold gitu. Cantik banget.”
“Kemarin gue langsung nyari online-nya, tapi cepet banget sold out. Efek Aespa gini susah pasti nge-war-nya. Di offline store-nya ada sih, tapi limited stock. Sampe antri-antri segala tau, Kak.”
“Ya masa… kita harus ke Bali buat beli gelang doang.”
Mereka tidak sadar jika percakapannya didengar Prama yang sejak tadi berdiri di belakang adik-adiknya.
“Ran.”
Suara Prama membuat mereka tersentak. Kepala Anjani dan Kirana langsung menoleh ke belakang secara bersamaan.
“Kakak! Ngagetin, deh. Halo halo dulu, kek.” Teriak Anjani sambil mengelus dadanya yang berdebar.
“Ran, titip Caca. Fitri lagi ada acara kantor. Gue diajak padel sama temen-temen gue.” Ucap Prama sambil berjalan ke meja makan dan mendudukan Caca di sana. Tidak melihat mata Kirana sama sekali.
“Gue mau ketemuan sama Nadine sama Dimas. Arga sebentar lagi jemput.”
“Suruh aja main di sini. Gue deh yang bilang ke mereka.”
“Padel lo aja yang dipindahin ke sini.” Ucap Anjani dengan santai.
Begitu Kirana menoleh ke adiknya, ternyata Anjani sedang tersenyum jahil. Sambil menatap Kirana, Anjani mengucapkan sesuatu tanpa bersuara, bales, dong.
“Gue udah lima hari jagain Caca, masa sehari aja lo nggak bisa.” Ucap Kirana perlahan.
Jawaban Kirana membuat Prama menoleh ke arahnya. Mungkin kaget mendengar jawaban adiknya kali ini.
“Ya elah, sehari doang, Ran. Itung-itungan banget sih lo.” Suara Prama mulai naik.
“Gue lima hari, lo satu hari. Itungannya gimana?” Kirana menahan suaranya agar tidak ikut naik.
Suara mobil yang familier terdengar dari luar rumah. Anjani yang ikut kesal mendengar percakapan ini akhirnya memilih menengahi sebelum situasi semakin runyam.
“Bukan Kak Rana yang itung-itungan, tapi lo yang itung-itungan.” Anjani menghela napas berat. “Udah… pergi aja lo berdua, biar gue yang jagain Caca.”
Anjani menoleh ke Prama. “Tapi kalau jam dua belas lo belum sampe rumah, gue taro Caca di rumah Bu RT.”
“Ah… Mana bisa lo jagain anak gue.”
“Halah… kalau lo aja nggak mau repot ngajak anak lo, nggak usah sok milih deh.” Anjani mengajak Caca duduk di sofa bersamanya. “Kalau nggak mau gue yang jagain, bawa nih Caca ke lapangan. Biar abis padel lo nggak ada alesan nongkrong dulu. Lagian… nggak bisa banget absen main padel dulu? Udah tau istri lo lagi nggak ada, malah pergi-pergi.”
Quality Control
“Loyang buat lo.” Kirana mengulurkan sebuah tas karton cokelat ke Dimas. “Biar semangat bikin menu baru.”