Oktober, 2025
Mulut Nadine
Finally, touched down Tokyo.
Swipe.
First day onboarding! Tanggung jawab baru, tantangan baru. My dream job.
Swipe.
Sawasdee ka! Business trip kali ini seru banget.
Swipe.
Thank you banget udah diundang buat sharing hari ini.
Swipe.
Melihat postingan Instagram teman-temannya, semakin lama semakin membuat senyum Kirana menghilang. Bahkan sebuah foto sertifikat workshop melukis saja membuat Kirana merenung. Rasanya semua orang bergerak maju, sementara dia… sekarang pukul delapan malam, tapi Caca masih bermain di sebelahnya. Orang tuanya entah kemana, tidak ada kabar sama sekali.
Padahal dia sudah berencana untuk pergi. Sudah mengganti bajunya, tas dan sepatu sudah siap di teras, tinggal menunggu Nadine untuk menjemput. WhatsApp yang dia kirim ke kakak dan iparnya hanya mendapat dua centang biru tanpa balasan. Teleponnya juga tidak diangkat.
Kirana akhirnya selesai membereskan mainan Caca yang bertebaran di semua sudut rumah. Boneka, building blocks, masak-masakan, semua tercecer di lantai. Setiap kakaknya datang, mereka hanya mengambil boneka kelinci kesayangan Caca, lalu mengajak anaknya pulang. Tidak pernah ada niat untuk membereskan rumah dengan alasan 5L. Lelah, letih, lesu, lemah, lunglai. Ujung-ujungnya, yang merapikan rumah setiap malam hanya Kirana atau Mama.
“Ran, cabut yuk!” Kepala Nadine muncul di kusen pintu depan. Blazer yang digunakannya menunjukkan jika Nadine baru selesai meeting.
“Orang tuanya belum balik.” Kirana berjalan ke depan dan duduk di kursi teras.
“Titipin nyokap?”
“Lagi nggak enak badan.”
Nadine menghembuskan napas panjang, lalu ikut duduk di samping Kirana. Melihat tantenya pergi keluar, Caca mengikutinya sambil membawa bonekanya.
“Cowok baru gimana kabarnya, Nad?”
“Belum cowok dong, kan masih pendekatan.” Nadine melepas blazer-nya. “Yang ini perhatian banget. Good listener, attentive, thoughtful. Beda banget lah sama kemarin. Gayanya doang keren, tapi setiap pergi minta bayarin terus.”
“Lo beneran nggak mau ngenalin ke Dimas?”
Nadine melihat Kirana dengan sinis. “Semua cowok yang deket sama gue pas SMA pasti kenal Dimas. Gue males kalau tuh cowok nanti malah lebih akrab ke Dimas. Nih ya, pas kuliah gue udah nyari cowok di London aja masa bisa-bisanya Dimas kenal juga. Bingung gue. Ya… emang salah gue sih, mau-mau aja dideketin orang Indonesia di sana.”
“Tapi lo belum disuruh nikah sama bokap kan, Nad?”
“Nggak sih. Kayaknya gara-gara udah ada cucu dari kakak gue. Mereka juga tau kalau gue pengen banget jadi arsitek. Lo sendiri?”
“Boro-boro. Nyokap lebih suka ngebanggain Prama daripada nyuruh gue nikah. Kalau bokap sih terserah siapnya gue aja, yang penting cowoknya baik.”
“Emang Arga nggak baik?!” Mata Nadine membesar.