Manusia Normal
Seminggu berlalu sejak kakak iparnya dirumahkan.
Jarum jam menunjuk angka tujuh, tapi tidak lagi terdengar suara anak kecil di rumahnya. Kirana keluar kamar dengan hati-hati. Entah takut melihat apa. Semua terllihat normal. Tidak ada anak kecil berbaju TK yang biasa menyambutnya.
Papa dan Anjani sedang sarapan, sementara Mama masih sibuk di dapur. Dengar-dengar cerita dari adiknya semalam, Mama berniat mengirimkan makanan untuk keluarga Prama, yang biasanya tidak pernah dilakukan Mama. Cerita Anjani itu diakhiri dengan satu kalimat sinis.
“Tuh, Kak, baru ngerasain kan capeknya jagain anak sendiri sampe nggak sempet masak.”
Selesai sarapan, Kirana kembali ke kamar. Tepat pukul sembilan, dia melakukan clock-in. Kirana mulai mengerjakan pending-an kerjaannya, mengecek e-mail masuk, dan follow-up sesuatu dengan team-nya. Begitu seriusnya, sampai tanpa sadar sudah masuk waktunya makan siang. Kirana merebahkan punggungnya di kursi. Ternyata ini rasanya fokus bekerja tanpa anak kecil yang berlarian dan berteriak di dekatnya.
Kirana menyendok ayam kecap yang dimasak Mama tadi pagi. Disuapnya makanan di piringnya satu persatu sampai habis, sambil menonton Netflix di ponsel. Ternyata ini rasanya makan tenang, tanpa harus menyuapi anak kecil yang tidak mau makan. Atau terpaksa mengunyah cepat-cepat karena Caca merengek minta diajak bermain.
Di kamar mandi, sekarang hanya terdengar suara air mengalir. Sesekali Kirana mematikan keran shower, mencoba mendengar apakah ada suara lain. Tapi tidak. Tidak ada suara ketukan di pintu, tidak ada suara kecil yang memanggilnya, tidak ada yang menangis, tidak ada suara apa pun. Ternyata ini rasanya bisa diam di kamar mandi dengan tenang.
Pukul empat sore, nama Rahmi berkedip di layar ponselnya.
“Ran, lusa kita ada meeting sama klien ya. Gue takut lupa, jadi ngingetin sekarang.”
“Oke.”
“Nanti detailnya gue WhatsApp. Tapi, Ran… hmmm… lusa jangan ajak keponakan lo ya. Bukannya nggak boleh…”
“Gue sendiri kok. Tenang aja.”
Kirana mengucapkan kata-kata tersebut dengan senyuman.
Oh, ini rasanya menjadi manusia normal.
Januari, 2026
Bebas Lepas
Sejak Fitri di-layoff, rumah Kirana memang terasa lebih tenang. Meskipun begitu, terkadang kakak iparnya masih mampir untuk menitipkan Caca karena ada jadwal interview, walau memang tidak selama biasanya. Lagipula sejak covid, banyak interview yang dilakukan secara online.
Kirana sangat menyadari jika selama ini dia sangat ingin bebas dari Caca. Namun, melihat Fitri yang kerepotan mengurus Caca sendirian terkadang ada suara di kepalanya yang menyuruh Kirana untuk membantu. Untungnya, tumpukan pekerjaan yang padat berhasil membuatnya kembali fokus untuk sibuk dengan urusannya sendiri, bukannya sibuk dengan urusan orang lain.