Arsitek Nadine
Di tengah ruangan, Nadine sedang serius menjelaskan detail desain rumah di kawasan Menteng tersebut kepada para tamu open house. Di saat yang bersamaan, pintu depan terbuka sedikit. Terlihat Dimas berjalan mindik-mindik masuk ke dalam rumah, berusaha agar dirinya tidak menarik perhatian. Akhirnya Dimas sukses menyelinap ke barisan paling belakang dan langsung berdiri di sebelah Kirana sambil menghela napas lega.
“Telat lagi lo!” Ucap Kirana setengah berbisik.
Di depan mereka, Nadine sedang menjelaskan jika dirinya menerapkan konsep split-level pada rumah ini. Perbedaan ketinggian antar-lantai dirancang tanpa sekat masif. Sehingga setiap anggota keluarga dapat tetap terhubung, tanpa kehilangan privasi masing-masing.
“Ini baru mulai?” Tanya Dimas pelan setelah mengatur napasnya.
“Udah dari tadi lah, janjiannya kan jam sembilan.”
“Arga mana? Spare part sepeda gue jadi dibawain nggak?”
“Ada event di Bogor. Nanti lo ambil aja di rumahnya, udah dititipin ke mbak.”
“Ini rumah gede banget ya, Ran. Menurut lo siapa yang punya?”
Dimas dan Kirana melihat sekeliling rumah dengan mata membesar. Urat leher mereka sampai tertarik karena tingginya ceiling rumah tersebut.
“Kira-kira kalau gaji kayak kita, perlu berapa generasi ya biar KPR-nya lunas?” Tanya Kirana.
“Sampe kita reinkarnasi tiga kali juga belum lunas.” Jawab Dimas sambil tertawa kecil.
Suara Nadine tiba-tiba menghilang. Sesi open house tampaknya sudah selesai karena kerumunan orang di sekitar mereka sekarang menyebar ke sudut-sudut rumah. Nadine berjalan cepat ke arah mereka, lalu berdiri di depan kedua sahabatnya sambil melotot. Bukannya takut, dua orang yang tertangkap basah mengobrol itu malah saling lirik lalu tertawa.
“Kenapa telat?! Malah ngobrol lagi.”
“Sorry… sorry… pesenan gue banyak hari ini.” Dimas menelungkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah, memasang tampang memohon sebelum Nadine makin mengamuk.
“Ayo, muter-muter, Nad.” Kirana memeluk lengan Nadine untuk menengahi mereka.
“Anjay… Ternyata lo beneran arsitek, ya. Gue pikir corat-coret doang.” Ucap Dimas saat mereka berjalan melewati ruang tengah.
“Gue itu percaya kalau satu rumah bisa mengubah hidup satu keluarga. Jadi gue harus bikin rumah ini bukan cuma enak dilihat, tapi juga enak ditempatin. Rumah yang bikin setiap penghuninya betah dan punya alasan untuk selalu pulang.”
Rumah ini memiliki beberapa void untuk menarik cahaya matahari, juga agar sirkulasi udara tetap mengalir ke dalam rumah. Jadi walaupun di luar sedang terik-teriknya, di setiap sudut rumah selalu dapat terasa hembusan angin dan sinar cahaya alami sepanjang hari. Desainnya memadukan ruang dalam dan courtyard asri di dalam ruangan.
Sesuai keinginan pemilik rumah, interior hunian ini didominasi clean colours yang modern. Dinding putih gading yang dominan memantulkan cahaya, dipadukan dengan lantai keramik matte abu-abu muda. Sofa dan furniture abu-abu pucat menguatkan kesan bersih. Sedangkan hijaunya pohon di courtyard di tengah ruangan yang dibatasi dinding kaca besar dengan kusen hitam pekat, memberikan warna kontras yang hidup sekaligus menyegarkan mata.
“Nanti kalau gue mau bikin rumah bisa dong sama lo.”
“Kalau desain rumah, gue harus tau dulu kebutuhan kliennya. Bapak Dimas maunya rumah seperti apa? Kalau dapur, saya bisa bikin yang segede kamar Tita di Eiffel I’m Love 2.”
Dimas melipat tangannya, dengan ekspresi (sok) serius, “Saya nggak mau kayak gini, terlalu bersih kayak ubin masjid. Saya mau yang kayu kayu. Atau ala-ala industrial sepertinya boleh juga. Ah… tapi nanti tergantung selera istri saya. Kalau dia mau rumahnya warna ungu, saya ikut aja.”
“Kenapa tiba-tiba jadi selera istri? Macam punya pacar aja anda.”
“Eits… gue abis match di Tinder nih. Mau lihat nggak?”
Tidak ada reaksi dari dua perempuan di depannya. Tidak ada yang penasaran.
“Dih, nggak seru. Toilet mana, Nad?”
Dimas berjalan cepat ke arah yang ditunjuk Nadine.
“Ran, kalau ini rumah lo, apa yang mau lo ubah?”