Urusan Rambut
Melihat Anjani memberikan helm ke laki-laki dengan jaket ojek online, Dimas buru-buru turun dari mobilnya dan berlari kecil menyusul Anjani. Mereka berdua masuk ke bangunan dua lantai itu di saat yang bersamaan.
“Tau nyampenya bareng, mending tadi sekalian gue jemput, Jan.”
“Maaf, Mas. Kata Papa saya nggak boleh ngobrol sama orang nggak dikenal.”
Anjani mengangkat telapak tangannya ke depan wajah Dimas. Melihat Dimas yang tiba-tiba terdiam, Anjani tertawa kencang. Mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kantor Nadine berada.
Sambil berjalan naik, Anjani terus-menerus merapikan rambutnya.
“Kenapa sih, lo beresin rambut terus? Kalau kesandung gue nggak mau bantuin kayak di drama korea, ya.” Ucap Dimas. Tangannya bergerak mengambil map yang dijepit di ketiak kiri Anjani, yang terlihat menghalangi pergerakan tangan perempuan itu.
“Berantakan, Kak. Mana lepek lagi nih. Tadi pagi gue telat, jadi nggak sempet keramas.”
“Kenapa sih cewek peduli banget sama rambutnya? Kirana sama Nadine sisiraaan terus.”
“Sekarang gue tanya, kenapa Kak Dimas protective banget sama mobil merah lo itu?”
“Karena itu penting! Udah belinya pakai keringat, dirawat mahal-mahal, masa dibiarin buluk gitu aja?” Ucap Dimas emosi.
Sampai di anak tangga paling atas, Anjani langsung berbalik badan, menatap Dimas dari posisi yang sedikit lebih tinggi.
“Nah, sama! Karena itu penting. Udah gue potongnya di salon mahal, kalau keramas step-nya banyak, masa dibiarin lepek gitu aja.”
Reaksi Anjani membuat Dimas tertawa kecil. “Emang cewek kalau potong rambut, harganya berapa?”
Tepat di depan pintu ruangan Nadine, Anjani berpikir sesaat sebelum menjawab.
“Bisa buat lo potong rambut dua bulan lah. Itu juga udah termasuk pijet.”
Pertemuan Meja Kotak
Pukul setengah sepuluh malam.
Sebagian besar penghuni kantor Nadine sudah pulang. Semua komputer sudah mati, kecuali tiga komputer di tengah ruangan yang sedang me-render interior rumah tiga lantai. Sementara ruangan Nadine kedatangan tiga manusia dan dua bungkus pisang goreng crispy coklat keju.
“Kirana masih nginep di apartemen lo ya, Nad? Dia nggak tiba-tiba ke sini, kan?” Dimas mencomot satu pisang saat belum habis pisang di mulutnya.
“Aman. Dia lagi nonton Netflix.” Arga yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mengangkat kepala. “Jadi Kirana kenapa?”
“Kirana aneh. Dia kayak Kirana, tapi bukan. Iya kan, Dim?”
Dimas mengangguk. “Kayak kosong. Apa gue panggil dukun aja ya? Gue kenal satu.”
“Ga, lo kan udah lama pacaran sama dia, lo nggak ngerasa akhir-akhir ini dia beda?” Tanya Nadine ke Arga.
“Apa ya? Selain cerita-ceritanya… Kirana jadi tambah sering bilang terserah.”
“Kalau di rumah, ada yang aneh sama Kirana nggak?”