Siapa Sih?
Setelah menjemput Nadine di kantornya, BMW E30 warna merah bergerak menyusuri jalan raya. Bagi Dimas mobil klasik ini bukan hanya kendaraan, melainkan barang kesayangannya yang dirawat penuh cinta kasih sejak lima tahun lalu. Dimas membelinya hanya karena satu alasan, ini mobil yang dikendarai Boy Randy Tanoedirja, alias Mas Boy (kalau kamu tahu referensi ini, sudah waktunya untuk rutin cek darah lengkap).
“Si paling sibuk nih.” Sindir Dimas setelah tiga puluh menit menyetir sendiri, sementara penumpang di sebelahnya hanya tertawa kecil menatap ponselnya. “Lo WhatsApp-an sama siapa sih? Dikata gue buah kali, dianggurin. Pasti laki baru lagi, ya.”
Nadine menengok sinis. “Ada deh. Kan gue baru PDKT, bebas dong.”
“PDKT terus, pacarannya nggak mulai-mulai. Dari lo balik for good, sampe sekarang semuanya PDKT. Emang nyari kayak gimana? Kalau yang perhatian, lo pacarin tuh satpam BCA.”
“Kan gue bilang, gue nyari yang nggak kenal sama lo.”
Alasan Nadine membuat Dimas tertawa.
“Gue tebak, ya. Lo ganti laki baru lagi soalnya yang kemarin ternyata baik sama semua orang, bukan cuma sama lo doang.”
Nadine berusaha menyembunyikan kekagetannya di balik ponsel dengan casing tosca miliknya.
“Ih… nggak usah… sok tau lo…”
“Cerita cinta lo tuh kayak Koes Plus, Nad. Lagu lama.”
“Buru deh nyetirnya. Kirana udah nyampe apartemen. Nanti lo jadi nginep, kan?” Nadine membalas chat terakhirnya lalu memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
“Biar apa sih gue nginep? Kan biasanya lo berdua doang. Besok gue mau padel.”
“Biar kalau Kirana kenapa-kenapa nanti malem, gue nggak sendirian ngadepinnya. Lagian gue lihat tas padel lo di belakang.”
Kalimat Nadine membuat Dimas langsung menghentikan mobilnya. Tepat di depan Indomaret.
“Emang kita mau ngapain malem ini?! Ruqyah? Kirana tuh stress, bukan kemasukan roh pesut. Kayaknya lo kebanyakan nonton film.”
“Berisik! Udah cepet jalan, ngapain pake berenti sih? Mau beli sosis?”
Cek Lewat Google
“Quarter life crisis?” Tanya Dimas saat mereka masuk ke dalam lift apartemen Nadine.
Apartemen Nadine berada di kawasan premium di tengah kota. Dari bangunannya saja, kita bisa menebak seperti apa keadaan keuangan keluarga Nadine.
“Kita udah mau tiga puluh, apa quarter-nya?” Lanjut Dimas.
“Nggak tau, gue asal nyebut aja. Semalem gue lihat-lihat Google sama TikTok. Abis gue tuh takut dia depresi. Apa kita paksa ke psikolog, ya?”
“Depresi kenapa?”
“Kaya ibu-ibu yang kena baby blues gitu, Dim. Kurang tidur, capek, sendirian ngurus anaknya. Ya… Itu kata Google, sih.” Nadine menghembuskan napas panjang.
Tiba-tiba Nadine menepuk lengan Dimas. “Eh… apa jangan-jangan yang kena baby blues bukan kakak iparnya, tapi malah Kirana. Ya gimana nggak stres? Jagain anak sendiri aja susah, apalagi jagain anak orang lain.”
“Kasian juga Kirana. Punya baby aja belum pernah malah kena blues-nya.” Ucap Dimas asal.
Tring!
Pintu terbuka di lantai sepuluh. Mereka berjalan menuju unit apartemen Nadine di ujung lorong.
“Gue udah nanya sama temen gue yang psikolog, dia bilang supaya works harus orangnya sendiri yang willing buat pergi ke sana. Nggak bisa dipaksa. Soalnya kalau dipaksa, bisa jadi waktu di depan psikolognya dia malah nggak mau cerita apa-apa.” Terang Dimas.
“Gitu ya… Ya udah lah, malem ini coba cara gue dulu. Kalau nanti Kirana kelihatan gimana-gimana, kita paksa ke psikolog.”
“Kan gue baru bilang, ke psikolog nggak bisa dipaksa, Nadine Rose.”