Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #12

Awal Perjalanan

Kamu Baik

Sejak mobil Arga bergulir keluar dari parkiran apartemen Nadine, Kirana hanya diam, melamun melihat keluar jendela. Arga sengaja mengarahkan mobilnya menuju tempat lain, keluar dari jalur yang biasa mereka lewati untuk menuju rumah Kirana.

Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di samping sebuah taman. Arga turun sebentar dan meninggalkan Kirana untuk memesan batagor tidak jauh dari tempat itu. Sampai Arga kembali, Kirana masih bertahan di posisi yang sama. Tanpa bicara.

Kirana baru tersadar dari lamunannya saat jendela di sampingnya diketuk dari luar. Seorang laki-laki berbaju biru membawa dua piring berisi batagor bumbu kacang berdiri di sana. Kirana buru-buru membuka pintu mobil, lalu mengambil piring-piringnya dengan senyum untuk pertama kalinya hari ini.

“Terima kasih ya, Mas.”

Sepertinya The Glucose Theory of Self-Control dari Roy Baumeister dan Matthew Gailliot memang terbukti benar. Teorinya, self-control itu tergantung dari body’s glucose levels. Jadi kemampuan fokus, berpikir, mengontrol emosi, sampai mengambil keputusan itu baru dapat berfungsi maksimal jika sudah mendapat glukosa dari makanan. Karena setelah seluruh isi piring Kirana pindah ke perutnya, dia menoleh ke pacarnya untuk pertama kalinya.

“Menurut kamu, yang dibilang Nadine sama Dimas bener?”

“Iya.”

Jawaban singkat Arga membuat Kirana terkejut.

“Kenapa?”

“Kamu itu udah terlalu banyak bilang iya buat orang lain, sampe lupa bilang iya buat diri kamu sendiri, sayang.”

“Maksudnya?”

“Bandung.”

Arga menelan potongan batagor terakhirnya, lalu meletakkan piringnya di dashboard mobil. Dia berbalik badan menengok ke Kirana. Dengan senyum, Arga memegang tangan dan mengelus punggung tangan pacarnya dengan ibu jarinya.

“Kita jalan-jalan, seneng-seneng, ketawa-ketawa di Bandung. Tapi nggak pernah satu kali pun aku denger kamu bilang, ‘Aku mau ini, ya’ atau ‘Aku mau ke situ, ya’. Kamu selalu bilang terserah. Padahal kalau kamu mau ke tempat makan viral yang waiting list-nya dua jam, aku rela kok antri panas-panasan.”

Kirana tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku suka lihat senyum kamu.” Lanjut Arga. Suaranya melunak. “Tapi aku jauh lebih suka lihat kamu senyum karena kamu excited ngelakuin sesuatu yang kamu suka. Atau makan makanan yang kamu suka. Atau pergi ke tempat yang kamu suka.”

Jemari Arga bergerak perlahan mengelus rambut Kirana. Lalu menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga pacarnya dengan penuh sayang.

“Aku jatuh cinta sama kamu karena kamu care sama keluarga kamu, perhatian sama temen-temen kamu, baik sama semua orang. Hari ini aja kamu lebih dulu ngomong sama tukang batagor daripada sama aku. Disenyumin lagi abangnya.”

Kirana tertawa kecil. Melihat tawa pacarnya, Arga tersenyum lebih lebar.

“Tapi selain kamu baik sama mereka, aku juga mau kamu lebih care, perhatian, sayang sama diri kamu sendiri. Kasihan badan kamu udah bertahan selama ini. Jadi mulai sekarang, kurang-kurangin kata 'terserah'-nya, ya.”

 

Butterflies in the Stomach

Kirana menggunakan seluruh hari Minggunya untuk memikirkan semua perkataan sahabat dan pacarnya. Dia mencari di Google semua symptoms yang sempat mereka sebutkan, mencoba mengingat kembali semua emosi dan perasaan yang pernah muncul.

Jika sedang bersama Caca apa yang sebenarnya dia rasakan?

Sayang atau beban?

Cinta atau takut?

Kirana memutar ulang di kepalanya semua memori saat menjaga Caca. Juga memori saat dia menghadapi Prama dan Fitri saat mereka pergi bekerja dan menyerahkan tanggung jawab Caca kepadanya. Mengingat semua kejadian itu membuat Kirana tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal di dada dan meninggalkan rasa tidak enak di perutnya. Rasanya gelisah, dingin, dan mual. Rasa yang familier. Rasa yang selalu dia rasakan beberapa tahun belakangan.

Lihat selengkapnya