Kenangan
Kirana duduk dengan tangan mengatup di pangkuan, namun bukan suhu dingin ruangan ini yang mengganggunya. Dia hanya berusaha menenangkan dirinya setiap masuk ke ruangan ini. Walaupun sudah tiga sesi yang Kirana jalani, tapi terkadang rasa deg-degan masih tetap muncul. Karena dia tidak pernah tahu apa yang akan mereka bahas di setiap sesinya.
“Apa ingatan kamu tentang overwhelming?” Tanya psikolog perempuan berkacamata di hadapannya dengan tersenyum.
Kirana terdiam sejenak. Berusaha mengingat sesuatu.
“Dulu……”
Maret, 2009
Mie Ayam
Dengan seragam SMP, Kirana duduk di dekat lapangan dengan plastik minuman dingin di tangan kanannya. Anak-anak dengan seragam SD berlarian bermain bola di lapangan. Sesekali Kirana melirik ke luar sekolah, murid-murid lain dengan seragam SMP yang sama dengannya sedang mengantri di tukang jajanan sambil asyik mengobrol satu sama lain.
Kompleks sekolah Kirana terdiri dari tiga gedung, SD, SMP, dan SMA, yang berdiri di dalam satu area yang sama. Membuat setiap bel pulang berbunyi, lapangan dan jalanan depan sekolah selalu ramai.
“Aku inget lihat temen-temen aku pulang sekolah pada main, ikut ekskul, jajan, sementara aku…”
Kirana melihat Anjani kecil keluar dari sebuah ruangan kelas dengan seragam SD yang sudah keluar dari roknya. Dia tersenyum lebar, membuang plastik yang sudah kosong ke tempat sampah, dan menghampiri adiknya. Tas ungu yang lebih besar dari badan Anjani bergoyang kanan kiri. Tali tasnya terkadang turun meluncur dari pundaknya.
“Tapi aku sayang Anjani. Nggak ada yang jemput dia kalau bukan aku.”
Mereka berdua bergandengan tangan keluar dari sekolah. Anjani melambaikan tangan saat melihat teman sekelasnya. Sepanjang jalan menuju tempat menunggu angkot, Anjani bercerita hal-hal yang dia lakukan di kelas. Ternyata dia lebih suka bermain dan mengobrol dengan teman sebangkunya, daripada mendengar gurunya menjelaskan konsep penjumlahan. Kirana hanya tersenyum mendengarnya.
“Mama selalu bilang, kalau aku kakaknya Anjani. Jadi harus jagain adik aku. Harus ngasih tau yang bener sama dia. Harus tanggung jawab kalau dia ada apa-apa.”
Kirana menggerakan tangannya ke depan belakang mengikuti gerak tangan Anjani. Langkah kakinya juga disamakan dengan kecepatan Anjani. Namun… Kirana sesekali berbalik badan. Melihat teman-temannya yang masih bermain di sekolah.