Hobi Baru
Kirana mengeluarkan sebuah buku tulis yang diberikan psikolognya. Buku bersampul coklat dengan ring spiral. Cover-nya polos agar jika suatu saat dia terpikir sesuatu yang kreatif, cover buku ini dapat dia hias sendiri dengan spidol, krayon, atau stiker.
“Tadi kamu cerita, tulisan kamu di kelas Bahasa Indonesia itu bagus. Sekarang kita coba journaling di buku ini, ya.” Kata psikolognya saat menaruh buku tersebut di pangkuannya.
“Kamu bisa tulis apa aja. Mungkin cerita tentang hal kecil yang kamu suka. Kalau kamu suka menggambar atau foto-foto bisa dimasukkin. Kalau keadaan kamu di hari itu lagi menyenangkan, lagi sedih, lagi marah, kamu bisa tulis di sini. Anything.”
Kirana membolak balik buku tersebut. Halaman kosongnya membuat Kirana bingung. Sudah tiga hari buku ini ada di mejanya, tapi belum ada isinya sama sekali. Kirana tidak tahu apa yang harus dia tulis.
“Tapi kalau sama sekali nggak tau mau nulis apa, kamu bisa brain dump. Tulis asal apa aja, tanpa aturan. Mau hanya coret-coret, garis-garis asal, kata-kata asal, bebas. Tujuannya supaya bisa mengeluarkan isi kepala kamu yang sekarang terlalu penuh.”
Saat mendengar pintu kamarnya diketuk, Kirana menyembunyikan bukunya di bawah selimut. Kepala Papa muncul di kusen pintu, masih dengan polo shirt dan celana jeansnya. Setelah pensiun beberapa waktu lalu, Papa memutuskan menggunakan uang pensiunnya untuk membuka bengkel mobil dengan teman-teman sekantornya dulu. Belum terlalu besar, tapi menurut Papa cukup untuk mulai mencicil tabungan pernikahan dua anak perempuannya yang entah berapa tahun lagi.
“Papa bawa martabak tipker buat kamu. Nutella keju, kesukaan kamu. Ada di meja makan, ya. Cepet dimakan, nanti dihabisin Anjani.”
“Terima kasih, Pa.”
Setelah memastikan Papa betul-betul pergi, dia mengambil kembali bukunya. Untuk beberapa saat Kirana membalik-balik halamannya. Tangan kanannya memainkan pulpen yang sengaja dia beli khusus untuk journaling. Sampai dia paksakan untuk menulis kalimat pertama,
‘Sabtu minggu lalu diajak Dimas ke Spark.
Ke malnya sih udah pernah, tapi belum pernah main di Playtopia.
Ternyata seru juga.’
Setelah itu, tulisan perlahan mengalir. Dia mengeluarkan apa pun yang ada di kepalanya. Tanpa sadar Kirana sudah menghabiskan satu lembar penuh dengan tulisan. Dia tersenyum. Merasa bangga dengan hasil karyanya.
Suara notifikasi WhatsApp group mengalihkan perhatiannya.
Nadine Rose : Besok kita mulai pelajaran kedua!
Kumpul di apartemen gue jam 10 pagi.
Dimas Putra : @KiranaAyu datang dengan kemeja putih dan rok hitam!
Pelajaran Kedua
Saat Kirana baru menginjakkan kakinya di apartemen Nadine bersama Arga, Dimas langsung memasang wajah kecewa.
“Kenapa nggak pake dress code yang gue kasih tau sih, Ran?”
Tapi ekspresinya langsung berubah saat Arga mengulurkan kotak coklat berisi pisang goreng madu berlapis butter. “Yaaaa… nggak apa-apa lah, yang penting lo sampe sini.”
Setelah mengosongkan setengah kotak pisang tersebut dan membagikan satu gossip artis via orang dalam yang dikenal Dimas, mereka siap memulai acara utama. Kirana duduk di single seater sofa, punggungnya tegak seperti akan sidang skripsi. Sementara tiga orang lainnya berdiri di depannya.
“Kita bakal ngajarin lo gimana caranya bilang ‘nggak’. As a people pleasure, lo harus tau kalau bilang ‘nggak’ itu nggak apa-apa. Itu cara menghargai diri sendiri.” Nadine memberikan mukadimah.